SuperLearning


Teknik Merangkai Cerita (IC-TMC)

Teknik Merangkai Cerita adalah teknik dasar yang wajib dikuasai oleh siapapun yang berniat meningkatkan memori otaknya. Teknik ini berguna untuk menghapalkan nama-nama, atau barang-barang tertentu berdasarkan urutannya.

Dalam tulisan sebelumnya, tentang Imagination Code telah dicontohkan sepintas bagaimana menghapal dengan memakai teknik ini. Kali ini, kita akan membahasnya dengan lebih mendetail bagaimana menerapkan metode ini.

Sebelumnya, perlu diingat bahwa gambaran mental yang kita buat akan bertahan dalam memori jangka panjang, bila gambaran tersebut jelas dan mudah diingat oleh otak. Gambaran yang mendeskripsikan fisik dengan detail, seperti ukuran bentuk dan warna lebih disukai otak. Itulah mengapa kita perlu membuat gambaran mental berdasarkan gambaran fisik terlebih dahulu.

Kata pasak atau kata kunci, merupakan saklar pengingat yang akan dengan mudah dikenali otak. Ketika saklar itu dihidupkan, maka gambaran mental yang sudah kita susun, akan dengan mudah diingat kembali otak kita.

1. Gunakan Kata Benda sebagai Kata Kunci

Pada tahap awal, sangat dianjurkan untuk memilih kata kunci berupa kata benda, agar otak mudah mengingatnya. Hindari penggunaan kata kerja, karena gambaran tersebut kadang-kadang kabur di ‘mata’ otak. Misalnya, kita memilih sebuah gambaran mental berikut : ‘Kita berada di dapur’. Saat kita bermaksud mengakses informasi itu kembali, yang muncul kemungkinan bukan ‘kita berada di dapur’, melainkan ‘kita memasak di dapur’, ‘kita bengong di dapur’, dll.

2. Gunakan kata Kerja sebagai Kata penghubung.

Kata Kerja sangat bagus dipakai untuk  mengaitkan kata-kata kunci yang notabene adalah kata-kata benda, agar terjalin kalimat dan cerita yang logis, runtut, unik dan khas. Sehingga cerita itu akan diingat oleh otak. Apabila informasi itu ingin ditampilkan kembali, kita tinggal ‘memanggil’ kata kuncinya.

Misalkan kita ingin menghapal 20 daftar berikut dengan urut :

Bola, Ular, Api, Pohon, Abu, Angin, Pantai, Rokok, mobil, Anjing, Helm

Belalang, Kepompong, Ilalang, Awan, Selimut, Jam, Pisang, Tanah Abang, Celana.

Seluruh daftar di atas adalah kata benda. Dalam gambaran mental tak sadar, benda-benda tersebut sudah dikenali dengan baik oleh otak kita. Ketika ‘bola’ disebut, otak kita segera memberikan gambaran bahwa yang dimaksud kata tersebut adalah benda bulat. Pengalaman masing-masing individu juga berpengaruh terhadap gambaran ini selanjutnya. Orang yang biasanya bermain bola sepak atau senang menonton sepak bola, cenderung menggambarkan ‘bola’ sebagai bola sepak. Sedangkan orang yang senang menonton tenis, cenderung akan menggambarkannya sebagai ‘bola kecil berwarna hijau’.

Namun demikian, hal tersebut tak masalah, karena ketika gambaran ‘bola sepak’ atau ‘bola tenis’ itu muncul, otak segera memerintahkan bahwa yang sedang ingin kita hapal adalah ‘bola’, tak spesifik bola yang mana.

Kata kedua setelah bola adalah ular. Kita mesti menghubungkan kedua kata tersebut dengan kata kerja.  ‘Bola dimakan ular’, atau ‘bola disepak ular’, dll.

3. Rangkaikan menjadi cerita yang runtun.

Dengan menghubungkan 20 daftar tersebut dengan kata kerja, maka akan terjalin rangkaian cerita berikut : Bola dimakan ular. Ularnya marah, sehingga keluar Api yang membakar pohon. Pohon itu kemudian menjadi abu, yang diterbangkan angin menuju pantai. Pantainya penuh dengan rokok. Rokoknya kemudian dilempar ke dalam mobil, yang berisi anjing. Anjingnya membawa helm yang isinya belalang. Belalang yang ketakutan, berubah menjadi kepompong. Dari kepompong itu keluarlah ilalang, yang terbang menuju awan. Awan yang kedinginan lantas menarik selimut. Selimutnya menyenggol Jam, sehingga jamnya berdering, dan memekik, ‘pisaaaangggg…!’ Pisangnya kemudian bawa ke tanah abang dan dituker dengan celana.

Dengan cara sendiri, anda bisa merangkai 20 kata di atas menjadi cerita. Setelah selesai, coba ulang dalam gambaran mental anda. Ingat kata kunci pertama adalah BOLA. Dan coba tuliskan daftar selanjutnya.

Ada berapa banyak kata yang berhasil ditulis?

Sebagai tes untuk diri anda sendiri, hapalkan secara urut 30 daftar berikut dalam waktu 15 menit.

tembakau, gula, laut, langit, gigi, gunting, Sabuk, komputer, dasi, donat, daster, seruling, kantor, WC, telepon, boneka, sungai, bayam, amerika, batu, sendok, kepala, spidol, telinga, air kran, sepeda motor, tupai, printer, bis, kertas.

Bagaimana hasilnya?

Iklan

Teknik Memintal Kata

Dalam kehidupan sehari-hari,   kita sering menggunakan humor untuk menyegarkan suasana. Salah satu teknik humor adalah  berupa plesetan kata.

Caranya, mengubah bentuk atau susunan huruf, sehingga menimbulkan makna baru yang artinya sangat berbeda dengan makna semula.

Contoh : mendekap >>> Mendepak.

Pada wanita idaman, mungkin kita bisa mengirim sms : sayang, biarkan aku mendekapmu. Dan pada istri tercinta : Sayang, biarkan aku mendepakmu. (just Joke,…)

Selain mengubah susunan huruf, kadang-kadang kata-kata tertentu diplesetkan menjadi kata baru, yang secara fonetis terdengar mirip bunyinya.

Misalkan : “Kaulah segalanya” >>> “Kaulah Srigalanya”

Nah, mirip dengan humor di atas, kita akan menggunakan teknik memintal kata,  untuk memplesetkan kata-kata yang asing (dunia lain), menjadi kata-kata Familiar (dunia kita), yang bisa dicerna oleh otak, dan disimpannya dalam memori jangka panjang. pemakaian teknik ini sangat efektif untuk mempelajari bahasa baru, yang sangat asing di telinga. Metode ini, sangat disarankan untuk meningkatkan daya ingat memori super.

Teknik Plesetan Kata (TPK)

Untuk menerapkan TPK, daya kreativitas diperlukan untuk merangkai antara kata-kata asing, dengan kata-kata umum yang sudah dimengerti oleh otak kita. Karena itu, marilah kita sering  membaca kamus bahasa Indonesia dan  mempelajari arti/maknanya.

Sebagai latihan,  Mari mencoba memplesetkan/ merangkaikan kata asing berikut dengan kata yang sudah kita kenal.

1. Baca kata asingnya dulu.

2. Kaitkan kata-kata asing di atas, dengan kata familiar yang sudah kita kenal (boleh diplesetkan).

Misalnya : Boos >> Bos. Daze >> Dasi, Desi. Malo >> Malu. Lago >> Lagu, atau Logo. Tummy >> Cumi. Pret >> Prittt..!!! Sourire >>> Sore Hari.

3. Hubungkan kata yang telah diubah, dan kaitkan dengan makna asli kata tersebut.

Berikut makna asli kata-kata tersebut :

Misalnya, Daze : Tidak sadar. Jadi, Daze>>>Dasi atau Desi >>>Tidak Sadar.

Bisa dikaitkan sebagai : Dasi membuat orang tidak sadar diri. Atau, bisa juga : Desi sedang tidak sadar.

Contoh lain : Boos >>> Bos >>> Marah.

Bos kerjaannya Marah

Jadi, ketika kita ingat dasi atau Desi, kita ingat awal katanya (Daze) yang berarti tidak sadar. Ingat Bos, kita ingat orang yang kerjaannya marah melulu. Sehingga kita ingat bahwa Boos (bahasa Belanda), berarti Marah.

4. Bayangkan kembali kata-kata diatas dalam gambaran mental.

Jika diperkuat dengan metode repetisi 24-7-1-6, kata-kata di atas akan bertahan dalam memori jangka panjang, yang akan bertahan seumur hidup.

B. Teknik Ekstraksi Kata (TEK)

Teknik Ekstraksi Kata (TEK) mirip dengan Akronim, yakni memperluas sebuah kata, menjadi beberapa kata. Perluasannya biasanya berdasarkan atas masing-masing suku kata atau masing-masing hurufnya.

Misalnya : mayjen >>> Mayor jenderal, SOS (Save Our Soul), Beriman : Bersih, indah dan nyaman, dll.

Di dalam Teknik Ekstraksi, kita bebas berkreasi berdasarkan kreativitas kita masing-masing. Semakin lucu, unik, khas, akan semakin bagus. Karena otak akan ‘senang’ mengingatnya.

Contoh Ekstraksi kata lucu, unik, dan khas :

Tuti >>> ( Tukang Tidur), Tukang Tipu, Tumit Tinggi

Gunawan >>> Gundul Menawan

BT >>> Birahi Tinggi

Benci >>> bener2 Cinta, bener2 Ciamik

Cinta >>> Cincin Permata, Cina Tambun

TEK digunakan untuk memperluas kata yang susah ditemukan padanannya, jika menggunakan metode TPK.

Misalnya kata Spanyol, agak susah jika kita plesetkan kata ini menjadi kata lain yang mirip, spa(?), banyol (?), atau kata lainnya. lebih bagus jika masing-masing suku katanya diekstrak (dikembangkan menjadi kata baru). Misalnya, Spa:Sparuh, Nyol : Nyolong atau Banyol. Jadi spanyol = Sparuh nyolong, atau separuh banyol.

Dalam prakteknya, Metode TPK dan TEK bisa dipadukan untuk menghapal kata-kata tertentu yang susah dihapal dengan metode konvensional. Seperti menghapal nama negara dan ibukotanya, menghapal nama-nama planet beserta nama-nama bulan yang mengelilinginya, menghapal nama-nama galaksi, menghapal nama-nama ilmiah, kata-kata asing, dan sebagainya.

Contohnya :

Ibukota Spanyol adalah Madrid

Spanyol >>> Sparuh Nyolong. Madrid >> Madrasah Ibtidaiyah (MI). kata-kata tersebut kemudian kita rangkaikan menjadi : Separuh nyolong di Madrasah Ibtidaiyah(MI).

Ibukota Irak adalah Baghdad

Irak >>> Irex, Arak. Baghdad >>> Badak. Ingat ingek, ingat tenaga badak. Atau, Habis minum arak, tenaga seperti badak.

Multiple Intellegence

LATAR BELAKANG :

Tahun 1904 Alfred Binet dkk menciptakan tes IQ pertama kali dan memberikan opini kepada masyarakat bahwa kecerdasan itu dapat diukur secara obyektif dan dinyatakan dalam satu angka yaitu nilai IQ.

Pada tahun 1983, Howard Gardner seorang psikolog dari Harvard University mempersoalkan tentang makna ”kecerdasan” dan kevalidan tes IQ.

Kritik Gardner tentang tes IQ adalah sebagai berikut :

· Potensi kecerdasan manusia yang dinilai melalui tes IQ terlalu sempit, test IQ tidak mampu untuk menafsirkan kecerdasan sesuai dengan perkembangan kebudayaan.

· Kecerdasan bukan didapat dari keturunan (euginics), atau keunggulan budaya atau ras.

· Kecerdasan tersebut dapat berkembang, tidak bersifat tetap dalam bentuk nilai konstan.

· Test IQ merupakan sebuah test achievement, yang cenderung untuk mengetahui ketidakmampuan seorang anak. Padahal kecerdasan anak adalah sesuatu yang dapat diketahui dengan penglihatan anak tersebut.

· Test IQ, test SAT (Scholatic Aptitude Test), test WRAT (Wide Range Achievement Test) dan test Achievement lainnya merupakan jenis test tertutup, test tradisional dan masih belum mampu melihat kecerdasan seseorang.

· Kecerdasan seseorang tidak dapat dinilai dari test, yaitu sebagai tindakan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan atau tidak akan pernah dilakukan lagi.

· Kecerdasan lebih berkaitan dengan kebiasaan yang mempunyai kemampuan terhadap dua hal, yaitu (1) memecahkan masalah dan (2) menciptakan produk-produk baru bernilai budaya.

POIN-POIN KUNCI MULTIPLE INTELLIGENCE

  1. Setiap orang mempunyai 8 kecerdasan atau lebih.
  2. Pada umumnya orang dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai.
  3. Kecerdasan-kecerdasan umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks, tidak berdiri sendiri-sendiri.
  4. Ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori.

8 KECERDASAN MENURUT HOWARD GARDNER

Kecerdasan ini, disingkat SLIM N BIL(kepanjangan dari Spacial, Linguistik, Interpersonal, Music, Natural, body, Intrapersonal, dan Logic)


1. Kecerdasan Spasial (visual)

· Komponen inti : kepekaan merasakan dan membayangkan dunia gambar dan ruang secara akurat

· Berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, dan mendesain.

· Kondisi akhir terbaik menjadi seniman, arsitek, ahli, strategi, pecatur, desainer, sutradara, fotografer, montir profesional.

2. Kecerdasan Linguistik

· Komponen inti : kepekaan terhadap bunyi, struktur, makna, fungsi kata dan bahasa.

· Berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi, dan berdebat.

· Kondisi akhir terbaik menjadi seorang penulis, wartawan, orator, ahli politik, penyiar radio, presenter, guru, dan pengacara.

3. Kecerdasan Interpersonal :

  • Komponen inti : kepekaan mencerna dan merespon secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan keinginan orang lain.
  • Berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan sosial yang tinggi negosiasi,bekerja sama, mempunyai empati yang tinggi.
  • Kondisi akhir terbaik menjadi konselor, politikus, pemimpin, inovator.

4. Kecerdasan Musikal

· Komponen inti : kepekaan dan kemampuan menciptakan dan mengapresiasikan irama, pola titik nada dan warna nada serta apresiasi untuk bentuk ekspresi emosi musikal.

· Berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat musik.

· Kondisi akhir menjadi komposer, penyanyi, pemain musik, pencipta lagu.

5. Kecerdasan Naturalis

· Komponen inti : keahlian membedakan anggota-anggota spesies, mengenali eksistensi spesies lain, dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secara formal maupun non formal.

· Berkaitan dengan kemampuan meneliti gejala-gejala alam, mengklasifikasi, identisifikasi.

· Kondisi akhir terbaik : peneliti alam, ahli biologi, dokter hewan, aktivis binatang dan lingkungan.

6. Kecerdasan Badan (Body) / Kinestetis

· Komponen inti : kemampuan mengontrol gerak tubuh dan kemahiran mengolah objek, respon dan reflek.

· Berkaitan dengan kemampuan gerak motorik keseimbangan.

· Kondisi akhir terbaik menjadi olahragawan, penari, pematung, aktor, dokter bedah.

7. Kecerdasan Intrapersonal

· Komponen inti : memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri.

· Berkaitan dengan kemampuan mengenali diri sendiri secara mendalam, kemampuan intuitif dan motivasi diri, penyendiri, sensitif terhadap nilai diri dan tujuan hidup.

· Kondisi akhir terbaik menjadi psikoterapis, pemimpin agama, penasehat, filosof.

8. Kecerdasan Logis (Matematis)

· Komponen inti : kepekaan pada memahami pola-pola logis atau numeris, dan kemampuan mengolah alur pemikiran yang panjang.

· Berkaitan dengan kemampuan berhitung, menalar, dan berfikir logis, memecahkan masalah.

· Kondisi akhir menjadi ilmuwan, ahli matematika, ahli fisika, pengacara, psikiater, psikolog, akuntan, dan programmer.

Baca juga Artikel terkait :

Multiple Intellegence

IQ, EQ dan SQ : dari Kecerdasan Tunggal Menuju Kecerdasan Majemuk

Teori Quantum Dalam Berbagai Ranah

Kecerdasan Dialektis


IQ, EQ dan SQ :

Dari Kecerdasan Tunggal Menuju Kecerdasan Majemuk

Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus.

Dalam pandangan psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). Berdasarkan temuan dalam bidang antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu di muka bumi ini pernah hidup makhluk yang dinamakan Dinosaurus yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan kuat dibandingkan dengan manusia. Namun saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di musium-musium tertentu. Boleh jadi, secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur, meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.

Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan.

Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.

Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu :

(1) kemampuan untuk belajar;

(2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan

(3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.

Memang, semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau Thurstone (1938) dengan teori “Primary Mental Abilities”-nya. Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005).

Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.

Selama bertahun-tahun IQ telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan dengan tantangan dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademisi, pendidik, praktisi bisnis dan bahkan publik awam, terutama apabila dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi hidup seseorang.

Adalah Daniel Goleman (1999), salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni Kecerdasan Emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Menurut hemat penulis sesungguhnya penggunaan istilah EQ ini tidaklah sepenuhnya tepat dan terkesan sterotype (latah) mengikuti popularitas IQ yang lebih dulu dikenal orang. Penggunaan konsep Quotient dalam EQ belum begitu jelas perumusannya. Berbeda dengan IQ, pengertian Quotient disana sangat jelas menunjuk kepada hasil bagi antara usia mental (mental age) yang dihasilkan melalui pengukuran psikologis yang ketat dengan usia kalender (chronological age).

Terlepas dari “kesalahkaprahan” penggunaan istilah tersebut, ada satu hal yang perlu digarisbawahi dari para “penggagas beserta pengikut kelompok kecerdasan emosional”, bahwasanya potensi individu dalam aspek-aspek “non-intelektual” yang berkaitan dengan sikap, motivasi, sosiabilitas, serta aspek – aspek emosional lainnya, merupakan faktor-faktor yang amat penting bagi pencapaian kesuksesan seseorang.

Berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cenderung bersifat permanen, kecakapan emosional (EQ) justru lebih mungkin untuk dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan oleh siapa saja yang berkeinginan untuk meraih sukses atau prestasi hidup.

Pekembangan berikutnya dalam usaha untuk menguak rahasia kecerdasan manusia adalah berkaitan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dipandang masih berdimensi horisontal-materialistik belaka (manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial) dan belum menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikal-spiritual). Berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya. pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (religious experience).

Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun, 2003).

Temuan ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, dan riset yang dilakukan oleh Michael Persinger pada tahun 1990-an, serta riset yang dikembangkan oleh V.S. Ramachandran pada tahun 1997 menemukan adanya God Spot dalam otak manusia, yang sudah secara built-in merupakan pusat spiritual (spiritual centre), yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak. Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer menunjukkan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam (Ari Ginanjar, 2001). Kajian tentang God Spot inilah pada gilirannya melahirkan konsep Kecerdasan Spiritual, yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna. Dengan istilah yang salah kaprahnya disebut Spiritual Quotient (SQ)

Jauh sebelum istilah Kecerdasan Spiritual atau SQ dipopulerkan, pada tahun 1938 Frankl telah mengembangkan pemikiran tentang upaya pemaknaan hidup. Dikemukakannya, bahwa makna atau logo hidup harus dicari oleh manusia, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai :

(1) nilai kreatif;

(2) nilai pengalaman dan

(3) nilai sikap.

Makna hidup yang diperoleh manusia akan menjadikan dirinya menjadi seorang yang memiliki kebebasan rohani yakni suatu kebebasan manusia dari godaan nafsu, keserakahan, dan lingkungan yang penuh persaingan dan konflik. Untuk menunjang kebebasan rohani itu dituntut tanggung jawab terhadap Tuhan, diri dan manusia lainnya. Menjadi manusia adalah kesadaran dan tanggung jawab (Sofyan S. Willis, 2005).

Di Indonesia, penulis mencatat ada dua orang yang berjasa besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yaitu K.H. Abdullah Gymnastiar atau dikenal AA Gym, da’i kondang dari Pesantren Daarut Tauhiid – Bandung dengan Manajemen Qalbu-nya dan Ary Ginanjar, pengusaha muda yang banyak bergerak dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Emotional Spritual Quotient (ESQ)-nya.

Dari pemikiran Ary Ginanjar Agustian melahirkan satu model pelatihan ESQ yang telah memiliki hak patent tersendiri. Konsep pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar Agustian menekankan tentang :

(1) Zero Mind Process; yakni suatu usaha untuk menjernihkan kembali pemikiran menuju God Spot (fitrah), kembali kepada hati dan fikiran yang bersifat merdeka dan bebas dari belenggu;

(2) Mental Building; yaitu usaha untuk menciptakan format berfikir dan emosi berdasarkan kesadaran diri (self awareness), serta sesuai dengan hati nurani dengan merujuk pada Rukun Iman;

(3) Mission Statement, Character Building, dan Self Controlling; yaitu usaha untuk menghasilkan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan merujuk pada Rukun Islam;

(4) Strategic Collaboration; usaha untuk melakukan aliansi atau sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya untuk mewujudkan tanggung jawab sosial individu; dan

(5) Total Action; yaitu suatu usaha untuk membangun ketangguhan sosial (Ari Ginanjar, 2001).

Berkembangnya pemikiran tentang kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) menjadikan rumusan dan makna tentang kecerdasan semakin lebih luas. Kecerdasan tidak lagi ditafsirkan secara tunggal dalam batasan intelektual saja.

Menurut Gardner bahwa “salah besar bila kita mengasumsikan bahwa IQ adalah suatu entitas tunggal yang tetap, yang bisa diukur dengan tes menggunakan pensil dan kertas”. Hasil pemikiran cerdasnya dituangkan dalam buku Frames of Mind. Dalam buku tersebut secara meyakinkan menawarkan penglihatan dan cara pandang alternatif terhadap kecerdasan manusia, yang kemudian dikenal dengan istilah Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) – (Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, 2002) .

Berkat kecerdasan intelektualnya, memang manusia telah mampu menjelajah ke Bulan dan luar angkasa lainnya, menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang menjadikan dunia terasa lebih dekat dan semakin transparan, menciptakan bom nuklir, serta menciptakan alat-alat teknologi lainnya yang super canggih. Namun bersamaan itu pula kerusakan yang menuju kehancuran total sudah mulai nampak. Lingkungan alam merasa terusik dan tidak bersahabat lagi. Lapisan ozon yang semakin menipis telah menyebabkan terjadinya pemanasan global, banjir dan kekeringan pun terjadi di mana-mana Gunung-gunung menggeliat dan memuntahkan awan dan lahar panasnya. Penyakit-penyakit ragawi yang sebelumnya tidak dikenal, mulai bermunculan, seperti Flu Burung (Avian Influenza), AIDs serta jenis-jenis penyakit mematikan lainnya. Bahkan, tatanan sosial-ekonomi menjadi kacau balau karena sikap dan perilaku manusia yang mengabaikan kejujuran dan amanah (perilaku koruptif dan perilaku manipulatif).

Manusia telah berhasil menciptakan “raksasa-raksasa teknologi” yang dapat memberikan manfaat bagi kepentingan hidup manusia itu sendiri. Namun dibalik itu, “raksasa-raksasa teknologi” tersebut telah bersiap-siap untuk menerkam dan menghabisi manusia itu sendiri. Kecerdasan intelektual yang tidak diiringi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya, tampaknya hanya akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan dirinya maupun umat manusia. Dengan demikian, apakah memang pada akhirnya kita pun harus bernasib sama seperti Dinosaurus ?

Dengan tidak bermaksud mempertentangkan mana yang paling penting, apakah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual, ada baiknya kita mengambil pilihan eklektik dari ketiga pilihan tersebut. Dengan meminjam filosofi klasik masyarakat Jawa Barat, yaitu cageur, bageur, bener tur pinter, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa dengan kecerdasan intelektualnya (IQ) orang menjadi cageur dan pinter, dengan kecerdasan emosional (EQ) orang menjadi bageur, dan dengan kecerdasan spiritualnya (SQ) orang menjadi bener. Itulah agaknya pilihan yang bijak bagi kita sebagai pribadi maupun sebagai pendidik (calon pendidik)!

Sebagai pribadi, salah satu tugas besar kita dalam hidup ini adalah berusaha mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang kita miliki, melalui upaya belajar (learning to do, learning to know (IQ), learning to be (SQ), dan learning to live together (EQ), serta berusaha untuk memperbaiki kualitas diri-pribadi secara terus-menerus, hingga pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri dan prestasi hidup yang sesungguhnya (real achievement).

Sebagai pendidik (calon pendidik), dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang profesional dan bermakna, tugas kemanusiaan kita adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang dimilikinya, melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (Meaningful Learning) (SQ), menyenangkan (Joyful Learning) (EQ) dan menantang atau problematis (problematical Learning) (IQ), sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang cageur, bageur, bener, tur pinter.

Sebagai penutup tulisan ini, mari kita renungkan ungkapan dari Howard Gardner bahwa :

“BUKAN SEBERAPA CERDAS ANDA TETAPI BAGAIMANA ANDA MENJADI CERDAS !”

Baca juga Artikel terkait :

Multiple Intellegence

IQ, EQ dan SQ : dari Kecerdasan Tunggal Menuju Kecerdasan Majemuk

Teori Quantum Dalam Berbagai Ranah

Kecerdasan Dialektis

Kecerdasan Dialektis


Tak dapat dipungkiri, kita hidup untuk melangsungkan peribadatan. Dalam konteks global, ibadah termanifestasikan dalam segala gerak kemanusiaan yang diarahkan untuk mencapai derajat kebahagiaan yang tertinggi. Dalam hal ini, relasi transendential – antara Makhluk dan Khaliknya, tidak harus merupakan bagian paling dominan, tetapi justru saling menyeimbangkan dengan ibadah sosial yang kita lakukan, berupa relasi horizontal yang melibatkan interaksi antar makhluk-Nya. Pun tidak berlebih menganggap bahwa, dengan alasan tertentu, justru ibadah sosial mesti ditempatkan dalam proporsi dominan, jauh melampaui kesalehan-kesalehan individual yang ritualistik. Berbeda dengan ibadah vertikal yang, sebenarnya masuk dalam wilayah pertanggungjawaban nafsiah (individual).
Ibadah sosial – horizontal, yang berujung pada bentuk-bentuk kesalehan sosial, kerap mengasyikkan untuk dibahas. Selain karena relatif mendesakralisasi entitas “tuhan” yang kadang jadi penghalang “kenakalan” manusiawi, secara sederhana juga dapat dikonsumsi oleh banyak pihak tanpa harus khawatir akan ancaman dikotomi surga-neraka.

Kemashlahatan ummat manusia, yang diprasyaratkan oleh hadirnya kesalehan-kesalehan sosial, lebih digambarkan sebagai kondisi di mana semua entitas mendapat “posisi” yang proporsional, tanpa diskriminatif. Kemashlahatan kemudian hanya dapat terwujud jika ada ikhtiar untuk mewujudkannya. Gerak mencapai tujuan dan menggapai cita-cita, akan banyak dipengaruhi oleh sejauh mana metodologi dan kemampuan teknis yang kita miliki. Kemampuan, yang oleh banyak pakar diistilahkan sebagai “kecerdasan hidup”.

Dalam posisinya, manusia memiliki sejumlah potensi insani yang sebenarnya dapat diaktualkan dalam realitas. Kemampuan untuk mengetahui banyak hal secara ilmiah, disebut kecerdasan intelektual. Sedangkan kapabilitas untuk mengembangkan interaksi sosial secara positif dan mendukung potensi insani lainnya, disebut kecerdasan emosional. Ada lagi jenis kecerdasan yang banyak berpengaruh atas prestasi spiritual seseorang, yaitu kecerdasan spiritual.
Perkawinan antara kecerdasan spiritual dengan kecerdasan intelektual dalam berbagai hal, akan melahirkan “idealisme” dalam diri. Sebuah world view hanya akan lahir jika perspektif spiritualitas dapat menembus spektrum ketuhanan (idealitas), dan dikuatkan secara rasional oleh kemampuan intelektualitas. Idealisme, dalam berbagai pengertian, merupakan refleksi kesempurnaan yang lahir sebagai hasil pergulatan intelektualitas-rasionalitas dengan potensi fitrawi manusia.

Idealisme (seharusnya) menjadi spirit dasar bagi manusia untuk berikhtiar menuju kesempurnaan. Dalam konteks ini, permasalahan yang kemudian muncul adalah, idealisme kadang harus dipaksakan untuk sedikit lebih realistis dalam memandang dunia (world). Yang kemudian muncul – pada bagian akhir, adalah proses dialektika antara keduanya. Pertanyaan yang hadir kemudian, apakah dialektika dapat dianggap sebagai bagian ibadah ? Apakah benar, proses hidup merupakan keseluruhan dialektika ?

Dialektika Kehidupan

Paradigma hitam-putih (black and white) dalam kenyataannya, menyisakan ruang yang memungkinkan terjadinya interaksi bilateral. Adanya baik dan buruk, senang dan sedih, kaya dan miskin, memberi peluang besar bagi terwujudnya dinamisasi. Seperti roda pedati, hidup ini berputar dalam siklus tersendiri berdasarkan hukum tertentu. Dalam takaran spiritualitas – seperti antara lain diajarkan dalam tradisi Yin dan Yang, fluktuatifnya keimanan manusia, semakin menunjukkan bahwa keseluruhan proses hidup merupakan dinamika tersendiri. Penyederhanaan dari semua proses ini adalah dengan menyebutnya sebagai dialektika.

Proses dialektika sarat dengan kemungkinan-kemungkinan. Kalah dan menang menjadi hal biasa. Dari kesadaran dialektis inilah, mulai bermunculan upaya penyeimbangan baru, khususnya untuk meminimalkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak menguntungkan dalam proses dialektika, dengan mempopulerkan budaya win-win solution (solusi menang-menang). Tak dapat dinafikkan, win-win solution juga merupakan bagian dari dinamika. Hanya saja, ini menduduki level yang lebih tinggi dibanding konsep win-lose solution. Singkatnya, berdialektika adalah bermain dengan kemungkinan-kemungkinan !

Layaknya proses yang di dalamnya ada ikhtiar secara sadar, dialektika pun mensyaratkan adanya kemampuan-kemapuan dasar untuk dapat memenangkan keseluruhannya. Kemampuan, yang dalam bahasa sederhananya, diistilahkan sebagai kecerdasan – sebagaimana yang dijelaskan di muka. Untuk memudahkan berlangsung dan tercapainya harapan dalam sebuah dialektika, kita mutlak membutuhkan kemampuan dasar berupa Kecerdasan dialektis.

Kecerdasan Dialektis; Persinggungan Idealisme dengan Realitas

Tak jarang ketika diperhadapkan dengan realitas, kita tidak dapat berbuat banyak. Pergulatan batin untuk memutuskan apakah suatu perbuatan adalah baik atau buruk, ideal atau kapital, dan berbagai pertentangan bipolar lainnya, menjadi hambatan negatif berkembangnya kreatifitas. Kita menjadi gamang – antara memilih yang ini atau yang itu. Kita terjebak dalam keragu-raguan yang mungkin pelik untuk reda. Padahal, kenyataan berjalan dengan alurnya sendiri, tak pernah mau mengerti kegamangan yang melanda kita. Pada akhirnya, ketidakmampuan untuk melakukan proses dialektika – antara idealisme dalam jiwa dengan realitas di depan mata, membawa kita pada kegagalan, setidaknya kegagalan untuk memilih.

Kecerdasan dialektis hanya dapat terbangun jika kita sadar bahwa setiap insan memiliki kemerdekaan yang sama untuk berikhtiar. Sebagai bagian ibadah, berikhtiar merupakan proses pencapaian tujuan hidup – menuju kesempurnaan hakiki. Jadi, secara sederhana, dialektika adalah upaya-upaya realistis yang dapat dilakukan manusia untuk mencapai limit tertentu, menuju kesempurnaan. Bukankah proses hidup yang kita lakukan tidak mesti harus sempurna, tetapi sedikitnya bisa mendekati kesempurnaan?

Memunculkan kecerdasan dialektis, menuntut kesediaan untuk menunjukkan kebesaran jiwa dan kemampuan untuk mempersinggungkan idealisme sanubari dengan pendekatan-pendekatan realistis di alam nyata. Pada level ini, kecerdasan dialektis sebenarnya dapat menjadi dinamisator kehidupan manusia, menjembatani kebuntuan dan ketidakbertemuan antara titik ideal dengan kenyataan yang terjadi. Rendahnya kecerdasan dialektis sebenarnya menjadi jawaban, mengapa banyak orang mengalami stress dan tekanan psikis berlebih dalam hidupnya.

Kecerdasan dialektis mensyaratkan selain kecerdasan intelektual-spiritual, juga kecerdasan emosional. Daniel Golemann, dalam konsep kecerdasan emosionalnya, menitikberatkan pemanfaatan kecerdasan emosional pada wilayah interaksi sosial (antar pribadi). Kematangan individu, khususnya untuk dapat menghadapi kenyataan secara dewasa, banyak dipengaruhi oleh tipe kecerdasan ini. Sementara kecerdasan intelektual dan spiritual, dalam kajian Dana Zohar dan Ian Marshall, lebih banyak bermain dalam wilayah-wilayah individual (intra pribadi). Sementara kecerdasan dialektis, muncul sebagai evolusi tertinggi hasil interaksi dinamis antara tiga jenis kecerdasan primer manusia tersebut (intelektual-spiritual dan emosional). Munculnya tipe-tipe kecerdasan baru, hanya merupakan turunan sekunder dari tiga kecerdasan dominan sebelumnya. Dinamika yang terbangun dari ketiga kecerdasan dominan tadi, jika diperkaya dengan penguasaan kecerdasan turunan sekunder lainnya, dapat mengantarkan kita pada titik pencapaian kecerdasan dialektis.

Sebagaimana entitas lain, kecerdasan dialektis juga berfluktuatif sejalan dengan tingkat kedewasaan perspektif dan keberterimaan realitas yang kita miliki. Kecerdasan dialektis, pada satu titik merupakan puncak kearifan manusiawi dalam memandang harmonisasi hidup ; keseimbangan antara kebutuhan materiil dan imateriil, antara kepentingan dunia dan akhirat. Manusia yang memiliki kecerdasan dialektis tertinggi adalah insan kamil; insan yang realistis dalam kedinamisan yang melingkupinya.

Bukan hal yang sukar membangun kecerdasan dialektis. Yang penting kita bisa memahami secara benar, seperti bagaimana potensi fitrawi yang melekat dalam diri kita. Setiap manusia dianugerahi kemerdekaan untuk berbuat, tentunya dalam batas-batas kemampuan insaniah yang dimilikinya, termasuk untuk melakukan “penyesuaian-penyesuaian” agar dapat mencapai tujuan hidup. Tetapi di luar semua itu, hukum alam (sunnatullah) juga tak bisa dinafikkan adanya. Persinggungan antara kemerdekaan manusia dengan keharusan hukum alam, merupakan proses dialektika dalam skala kosmik, yang melahirkan kesadaran kontekstual – kesadaran untuk menganggap bahwa kita sedang bermain dengan batasan-batasan melalui permainan tak terbatas dalam konteks yang berbatas. Dengan demikian, sebenarnya kesadaran kontekstual hanya dapat lahir jika kita memiliki kecerdasan dialektis yang matang.

Jika kecerdasan dialektis berkembang baik, maka kemampuan kita menghadapi dan mengelola kenyataan akan baik pula, termasuk untuk membumikan makna hubungan transendental kita kepada Rabb dan substansi dasar relasi horizontal kita dengan makhluk-Nya yang lain. Kesederhanaan hidup, dalam nuansa yang harmonis, menjadi tidak sukar diwujudkan, asalkan kemampuan dialektika kita semakin matang. Sehingga, pada akhirnya, kesempurnaan hidup – diterminologikan sebagai “insan kamil”, hanya bisa terwujud jika kita membangun kecerdasan dialektis secara benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca juga Artikel terkait :

Multiple Intellegence

IQ, EQ dan SQ : dari Kecerdasan Tunggal Menuju Kecerdasan Majemuk

Teori Quantum Dalam Berbagai Ranah

Kecerdasan Dialektis

Kebutuhan untuk mengetahui arti dan pentingnya ukuran kecerdasan manusia dapat dikatakan berawal di Paris tahun 1900, ketika Menteri Pendidikan Perancis dan para pemimpin kota Paris berbicara dengan seorang ahli psikologi bernama Alfred Binet tentang sebuah permintaan yang tidak biasa yaitu apakah dia dapat merancang semacam ukuran yang dapat memperkirakan anak muda mana yang sukses dan mana yang akan gagal di sekolah dasar di Paris. Binet berhasil dan lahirlah IQ Test. Sejak saat itu dimulailah perkembangan teori-teori kecerdasan dari ahli-ahli psikologi di dunia.

Beberapa teori kecerdasan yang populer :

Kecerdasan Intelektual / Intelektual Quotient (IQ)

Penemu : Alfred Binet (1857-1911)

Konsep :

· Kecerdasan dilihat hanya dari sisi kekuatan verbal dan logika seseorang.

· Kecerdasan akhirnya dapat dinilai dengan angka konstan

· Menganut konsep eugenic artinya pengendalian sistematis dari keturunan.

· Perkembangannya diteruskan oleh Carl Brigham dengan merancang tes IQ yang diperbaharui dengan nama Scholastic Aptitute Test (SAT).

Kecerdasan Umum / General Intelegence (G)

Penemu : Charles Spearman (1863-1945)

Konsep :

· Manusia mempunyai kemampuan mental umum (G) yang mendasari semua kemampuannya untuk menangani kesulitan kognitif.

· Faktor G ini meliputi kemampuan memecahkan masalah, pemikiran abstrak, dan keahlian dalam pembelajaran.

Kecerdasan Cair dan Kecerdasan Kristal / Fluid and Crystaled Intelligence

Penemu : Raymond Cattel dan John Horn

Konsep :

· Manusia mempunyai 2 macam kecerdasan umum, yaitu kecerdasan cair dan kecerdasan kristal.

· Kecerdasan cair adalah kecerdasan yang berbasis pada kecerdasan biologis. Kecerdasan ini meningkat sesuai dengan perkembangan usia, mencapai puncak saat dewasa dan menurun pada saat tua karena proses biologis tubuh.

· Kecerdasan kristal adalah kecerdasan yang diperoleh dari proses pembelajaran dan pengalaman hidup. Kecerdasan ini dapat terus meningkat tidak ada batas maksimal selama manusia mau dan bisa belajar.

Kecerdasan yang Dapat Dimodifikasi / Modifiable Intelligence

Penemu : Reuven Feurstein

Konsep :

· Kecerdasan dapat diukur dari kemampuan berpikir seseorang yang mana kemampuan berpikir manusia tersebut mempunyai tahap-tahap perkembangan.

Kecerdasan Proksimal / Proximal Intelligence

Penemu : Leo Vygotsky

Konsep :

· Kecerdasan kognitif seseorang dapat diuji dengan memperhatikan kronologis usia mental orang tersebut dan memperhatikan kapasitas orang tersebut.

· Maksud kapasitas seseorang adalah perbandingan kemampuan seseorang menyelesaikan suatu masalah seseorang diri dengan apabila mendapat bantuan orang lain dalam menyelesaikan masalah yang serupa.

Kecerdasan yang Dapat Dipelajari / Learnable Intelligence

Penemu : David Perkins dari Harvard University

Konsep :

· Kecerdasan dipengaruhi dan diopersaikan oleh beberapa faktor dalam kehidupan yaitu sistem orak, pengalaman hidup, dan kapasitas untuk pengaturan diri.

Kecerdasan Perilaku / Behaviour Intelligence

Penemu : Arthur Costa dari Institute of Intelligence di Berkeley

Konsep :

· Kecerdasan diartikan sebagai suatu kumpulan dari kecenderungan perilaku.

· Perilaku tersebut antara lain keuletan, kemampuan mengatur perilaku impulsif, empati, fleksibilitas berpikir, metakognisi, akurasi, kemampuan bertanya, bahasa, kepekaan panca indera, kebijaksaan, rasa ingin tahu, dan kemampuan mengalihkan perasaan.

Kecerdasan Tri Tunggal / Triarchic Intelligence

Penemu : Robert J. Sternberg

Konsep :

· Kecerdasan manusia dapat diukur dari keseimbangan tiga kecerdasan yaitu kecerdasan kreatif, analisis, dan praktis.

· Kecerdasan kreatif meliputi kemampuan menemukan dan merumuskan ide serta solusi dari masalah.

· Kecerdasan analisis digunakan saat secara sadar mengenali dan memecahkan masalah, merumuskan strategi, menyusun dan menyampaikan informasi.

· Kecerdasan praktis digunakan untuk bertahan dalam hidup seperti keberhasilan mengatasi perubahan.

Kecerdasan Moral / Moral Intelligence

Penemu : Robert Coles

Konsep :

· Kecerdasan yang menitikberatkan pada prinsip dan nilai-nilai hidup.

Kecerdasan Emosional / Emotional Intelligence

Penemu : Daniel Goleman (1995)

Konsep :

· Kecerdasan dapat terdiri dari kombinasi 5 komponen, yaitu kesadaran diri, manajemen emosi, motivasi, empati, dan mengatur hubungan / relasi.

Kecerdasan Memecahkan Kesulitan / Adversity Intelligence

Penemu : Paul Scholtz

Konsep :

· Kecerdasan seseorang dapat diukur dari kemampuan orang tersebut mengatasi masalah yang dialami dalam hidup.

· Kecerdasan seseorang dapat diklasifikasikan menjadi berbagai ciri dan sifat yaitu : Quitter, Camper, dan Climber.

Kecerdasan Majemuk / Multiple Intelligence

Penemu : Howard Gardner dari Harvard University

Konsep :

· Setiap orang mempunyai lebih dari satu kecerdasan, minimal memiliki delapan kecerdasan yaitu linguistik, logika-matematika, intrapersonal, musikal, naturalis, visual-spasial, dan kinestestis

· Setiap orang memiliki delapan kecerdasan ini dengan kadar perkembangan yang berbeda-beda.

disadur dari : http://d3rai.multiply.com

Saya menjadi teringat, ketika dua tahun lalu memberikan pelajaran extra  belajar sehabis sekolah untuk kelas III SMP di sebuah sekolah di Batam. Murid-muridnya sangat luar biasa karena pelajaran dasar kelas I (fisika) tentang besaran listrik dan matematika (lingkaran) tidak diingat sama sekali. (*Bagaimana nanti kalau menghadapi UAN?*)

“Apa satuan Kuat Arus?” ”

Ohmmmm….jawab mereka!”

“Kalau Watt adalah satuan dari…?”tanya saya lagi. Jawaban yang saya terima pun beragam. Ada yang mengatakan Tegangan, Energi, ataupun kuat arus. Tapi kebanyakan dari mereka kebingungan menjawab pertanyaan tersebut.

“Nah, sekarang tutup mata kalian dan dengarkan kata-kata saya…”sayapun mulai ‘menghipnotis’ mereka.

“Kalian suka bermain Volli. khan?” tanya saya. Beberapa kali saya memang melihat mereka bermain bola tersebut ketika istirahat.

“Iyaaa, pak!” jawab mereka kompak.

“Bagus…!”kata saya.”Mulai sekarang kalau bermain Voli jangan tegang, apalagi hampir terseret arus emosi. omongkan segala hambatan, kuatkan daya nalar kalian, minum extra Joss biar lebih berenergi…!”

Saya lalu meminta mereka membuka mata dan mengulangi apa yang saya ucapkan barusan. Di luar dugaan, hampir seisi kelas mengingat dengan jelas apa yang saya ‘hipnotis’kan tadi.

“Wah, selamat yah!! Berarti kalian sudah bisa menghapalkan satuan dari besaran listrik!”

“Wah, becanda lagi nih, pak?”

“Ah, mana ada!” kata sebagian mereka dengan logat melayu yang kental.

saya lantas menjelaskan tentang Imagination code (IC) pada mereka.

“Apa Artinya bermain voli jangan tegang?”tanya saya. “itu sama halnya :

Voli–>>Volt   Tegang—>>> Tegangan Listrik. jadi satuan dari tegangan listrik adalah Volt.

lebih lanjut, saya menjelaskan pada mereka :

Apalagi hampir terseret Arus Emosi. Hampir—>>>Ampere, Arus—>>>Arus Listrik

 omongkan segala Hambatan . Omongkan—>>>Ohm,

                                                Hambatan—>>>Hambatan/ Resistansi Listrik

Kuatkan Daya nalar kalian. Kuatkan—>>>Watt, Daya—>>>Daya Listrik

Minum Extra Joss biar lebih ber-energi. Joss—>>>Joule Energi—>>>Energi Listrik

LUARRRRRRRR biasa..! setelah 3 bulan, mereka masih bisa mengingat satuan dan besaran listrik tersebut. Dan setelah 6 bulan berlalu, merekapun masih bisa menghapalnya.

Sekarang, anda bisa menghipnotis diri anda sendiri…!!!

Laman Berikutnya »