bacalah cerita berikut, dan marilah kita renungkan bersama.

-oOo-

Telah Kami anugerahkan seorang putra, pada sepasang suami istri yang mendamba kelahiran putranya. Mereka bersyukur, karena mendapati anak mereka terlahir sehat tanpa kekurangan apapun. Mereka melaksanakan Aqiqah, dengan menyembelih dua kambing, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhannya.

Waktu berjalan cepat. Secepat itu juga mereka melupakan nikmat Tuhannya. Kebutuhan duniawi—memberi  nafkah keluarga sehari-hari, menghidupi anak dan menyiapkan pendidikan untuk mereka—membuat pasangan itu kadang melalaikan kewajiban mereka pada Tuhannya.

Karenanya, Kami kirimkan penyakit pada putra kedua mereka, dengan harapan agar keduanya tersadar, bahwa dulu mereka berjanji untuk selalu bersyukur atas nikmat-rahmat Tuhannya. Bukankah Kami telah memenuhi doa-doa mereka sebelumnya—termasuk juga kelahiran putra kedua mereka?

Penyakit itu, yang menyerang anak mereka saat usia lima tahun, membuat pasangan itu kembali  mengunjungi Kami. Mereka kembali memuja keagungan Kami, memuji sifat penyayang Kami, seraya berdoa agar Kami menyembuhkan penyakit asma anaknya—sebagaimana Kami telah menyembuhkan penyakit yang telah mereka derita, di  waktu-waktu yang lalu.

Anak itu—yang merasa teramat berat beban sakitnya, yang terengah-engah disetiap hembusan napasnya, lalu juga berdoa. Ia meminta agar diberikan kesehatan—seperti orang-orang lain—agar ia bisa bersyukur pada Kami, seraya beribadah lebih tekun pada Kami.

“Ya Tuhan, berikan aku kesehatan. Sembuhkanlah penyakit ini. Agar  bisa sholat dengan lebih khidmat, agar lebih khusyu’ dalam setiap ruku’.  Biar nanti— aku lebih istiqomah dalam beribadah, biar aku bisa menyulam Tahajud dan Witir, di sepertiga malamMu yang akhir.”

Kami catat doa anak ini dalam lembar langit, agar matahari bisa membacanya, ketika ia menyapa bumi. Agar bintang-bintang yang terbentang di jagad raya, turut menjadi saksinya.

Hingga  kemudian—dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah—Kami cabut penyakit itu dari raganya, agar jiwanya merasa damai dan tenang. Agar ia—sebagaimana janjinya, mampu beribadah dengan lebih istiqomah. Agar ia menjadi lebih dekat pada Tuhannya.

“Hai, penyakit yang berjangkit di raga pemuda. Lepaskanlah cengkeramanmu. Kembalilah engkau pada Tuhanmu—Tuhan yang menciptakan segala sesuatu.”

Waktu mengalun santun. Kami berikan kebebasan kepada anak itu untuk menajdi yang ia mau. Ia—yang dulunya putus asa—telah mempunyai beberapa cita-cita, yang segera ingin diraihnya. Dengan kesehatan yang Kami berikan, ia mampu begadang tiap malam, mengejar tahapan-tahapan kesuksesan yang makin dekat. Saban waktu, hampir sampai subuh ia terjaga. Dan Kami—dan  juga bintang-bintang di angkasa—tiada lelah menanti kedatangannya di bilik sempitnya, tempat ia dulu bermunajah dengan sepenuh jiwa.

Tapi masa itu tak pernah datang. Ia terlampau sibuk dengan pikiran dan imajinasinya, yang memenuhi segala penjuru malamnya. Hingga sepertinya tiada tersisa ruang, untuk Tuhannya.

Tiga tahun Kami sabar menanti.  Mengharap ia kembali mengingat kebesaran Tuhannya. Mengharap ia tersadar bahwa segala yang dilakukannya adalah berkat kemurahan hati Kami.

Dan penyakitpun angkat bicara. “Wahai Tuhan, ijinkan aku bersemayam kembali dalam raga pemuda itu, agar aku bisa menyumbat napasnya, biar ia sekarat dalam kematiannya.”

“Wahai penyakit, tugasmu bukanlah mencabut nyawanya. Tugasmu adalah mengembalikan ia ke jalan Tuhannya. Maka laksanakanlah tugas suci ini.”

Dan pemuda itu, yang sudah menganggap sembuh secara permanen  sakit asmanya— tiba-tiba merasakan sesak luar biasa. Hingga ia mesti diopname di rumah sakit. Hingga beberapa waktu kemudian,  pemuda itu mesti mengkonsumsi obat-obatan, agar selalu terhindar dari serangan asma yang mendadak.

Tapi penyakit asma, tidak tunduk pada manusia. Tidak juga tunduk pada obat-obatan. Ia hanya tunduk pada hukum Tuhan.  Seberapun besar obat-obatan itu, seberapapun kuat dosisnya, penyakit asma masih setia mengunjunginya. Masih setia membangunkannya tiap tengah malam. Saat pemuda itu terbangun—terengah-engah dalam derita yang luar biasa mendera, ia segera menelan obat-obatan kembali, dengan beberapa butiran pil tidur, agar terbebas dari serangan asma dan nyenyak tidurnya.

Hingga suatu ketika—saat  obat tidurnya telah habis, saat obat asmanya tak kunjung didapati di meja tempat ia biasa menyimpan obat-obatan—dalam kepanikan dan rasa sesak yang makin menyeruak, secara tak sengaja ia menyebut  nama Tuhannya—yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Ia berdoa agar dihentikan dari segala sakit yang menyiksanya.

Segera  Kami perintahkan kepada penyakit agar mengendurkan cengkeramannya yang kuat, agar pemuda itu pulih dari sakit yang menimpanya. Agar ketika kesadarannya telah pulih, ia bisa berpikir tentang hikmah kejadian yang menimpanya.

Pemuda itu lalu berkata, “Ya Tuhan, mengapa asmaku selalu kambuh tengah malam? Tidakkah Kau tahu bahwa aku selalu menderita karenanya? Mengapa kesehatan yang dulu Engkau anugerahkan, kini tak  lagi bisa kunikmati?”

Demi mendapati keluh kesah pemuda itu, Kami buka lembar langit. Lalu Kami perintahkan bintang-bintang untuk membacanya. Kami perintahkan bintang-bintang itu untuk mengirimkan signal digital ke otak pemuda itu. Agar pemuda itu bisa membaca kembali akan janji-janjinya dahulu!

“Bacalah, Bacalah dengan nama TuhanMu.”

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.

Dan bulan apabila mengiringinya

Dan siang apabila menampakkannya

dan langit serta binaannya

dan bumi serta penghamparannya

Demi  jiwa serta penyempurnaannya,

Maka  Tuhan  mengilhamkan kepada jiwa : (jalan) kefasikan dan jalan ketakwaannya,

sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya

Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.

Maka beruntunglah pemuda itu, yang telah mengingat kebesaran Tuhannya– yang  menganugerahkan kesempatan kepadanya untuk bertaubat.

-=o0o=-

Dan Anda sekalian,

Tidakkah Anda  juga mempunyai janji terhadap Tuhan?

.

..

….

Sungguh beruntung orang-orang yang  menepati janji mereka,

Dan sungguh rugi bagi yang melupakannya.

Inna Sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘aalamin

{ Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku,

Hidup dan matiku hanyalah untuk Allah,

Tuhan seluruh Alam }

Iklan