Proses Kreatif Dalam Puisi

Proses Kreatif terbentuknya sebuah karya (dalam hal ini puisi) tak bisa dilepaskan dari  proses belajar yang berasal dari dua hal, yakni : Inside Learning/ Learning by doing ( belajar dari pengalaman) dan outside learning/learning by experience (belajar dari sumber lain).

INSIDE LEARNING

Pengalaman memegang peran dominan dalam proses kreatif. Tiap apa yang dikecap atau dirasa, bisa menjadi sumber inspirasi. Lembar demi lembar peristiwa apabila mampu dituliskan akan menjelma menjadi ratusan  bahkan ribuan buku. Namun begitu, setiap orang memiliki ketertarikan yang beragam. Tidak semua peristiwa atau tempat mampu menggerakkan pena mereka untuk merangkai kata. Mereka hanya membidik apa yang menurut mereka berkesan dan memiliki arti.

Sebagai contoh, berada di tengah-tengah pasar mungkin sangat menarik bagi A, sehingga  ‘kekagumannya’ pada suasana pasar tersebut  mampu menginspirasinya dalam berkarya.

Sebelah penjual sayur tukang bubur,
bertabur lalat terbang dan hinggap
Lahap pembeli tak hirau kanan kiri


Bagi si B yang tidak menyukai keramaian dan lebih suka menyendiri, mungkin berada di tempat sunyi akan lebih membuatnya tenang dalam berkarya. Kalaupun ada ‘keramaian’ yang tercipta, alamlah penyebabnya.

Berdiri di tepian ombak
Beranjak dari ribuan jarak
Terpaku dalam kepungan pulau

Senja telah tenggelamkan wajah
Gelombang menggoyang bayang-bayang
Terbayang kenangan silih beralih
Sesaat berkilat di tempa cahaya
lalu gelap melelapkan cakrawala

Ada kalanya sebuah peristiwa mampu memicu ledakan emosi sang pengarang untuk berkarya. Agresi Militer Belanda I yang memakan korban ratusan penduduk Rawagede (daerah antara Karawang-Bekasi), menginspirasi Chairil Anwar dalam menulis puisi : Antara Karawang Bekasi.

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Taufik Ismail adalah salah satu penyair yang secara konsisten memotret peristiwa penting berkaitan dengan sejarah Indonesia, mulai peristiwa 1966, Reformasi 1998 hingga Bom Bali.
TAKUT 66, TAKUT 98

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa
takut ‘66, takut ‘98

OUTSIDE LEARNING

Selain menggali inspirasi dari pengalaman diri, kita juga bisa memanfaatkan pengetahuan dari luar untuk memicu sel-sel otak agar berkarya.

a. Membaca karya puisi orang lain
Semakin banyak   membaca, akan semakin luas wawasan yang kita dapatkan. Dari karya orang lain, kita bisa belajar bagaimana mereka memilih dan memilah kata (diksi), struktur kata pada larik dan baitnya, ragam kosa kata yang dipakai, dll.

b. Membaca buku-buku sastra (sejarah dan perkembangannya)
Meluangkan waktu untuk belajar dari karya-karya para penyair terdahulu akan membuat kita semakin paham bagaimana sebuah proses kreatif itu dapat tercipta.
Konon saat melintasi suatu kuburan, Sitor Situmorang melihat ada bulan di malam takbiran. Maka lahirlah karyanya yang fenomenal (karna hanya sepenggal)

MALAM TAKBIRAN
Bulan di atas kuburan

c. Belajar langsung dari sang penulis puisi
Akan menjadi sebuah keuntungan yang besar apabila kita bisa berinteraksi dengan sang penulis puisi secara langsung. Kita bisa mencatat kiat-kiatnya dalam berkarya. Bila memungkinkan, kita bisa berkonsultasi dan meminta pertimbangan tentang puisi yang kita buat.

LANGKAH-LANGKAH PROSES KREATIF :


1. Akumulasikan Inside Learning & Outside learning

Sinergitas antara dua proses pembelajaran tersebut akan mampu memicu datangnya inspirasi. Keberanian berfungsi sebagai katalis yang akan membuat proses tersebut berjalan lebih cepat. Bidik titik yang menjadi daya tarik. Fokuskan perhatian di satu titik tersebut.

Misalkan saja suatu ketika, sepanjang siang hingga sore kita bepergian ke pantai. Banyak hal menarik yang berkesan sepanjang perjalanan. Anak-anak yang riang bermain di pasir putihnya, deru ombak yang meliuk-liuk, karang yang menjulang, ombak yang tenang, dan lain-lainnya. Jangan terpengaruh/ terpancing untuk membidik semua  titik. karena hal ini justru akan membuat   fokus kita menjadi kabur. Pusatkan perhatian pada satu hal : Ombaknya, anak-anaknya, karangnya, pasirnya,  pantainya, atau justru jembatannya?

2. Masa Inkubasi

Apa yang telah diserap oleh indera kita secara sadar, sesungguhnya juga telah dicitrakan di alam bawah sadar. Inside Learning & Outside learning  akan diaduk, lalu diendapkan. Hal-hal yang berkaitan dengan fokus kita tadi, akan dikembalikan ke alam sadar, sedangkan hal-hal yang di luar fokus akan dibenamkan ke bawah sadar.
Inilah saat yang disebut sebagai AHA..!

3. Saat Penulisan

Proses kreatif ‘AHA’ di atas harus  kita manfaatkan dengan segera mengambil catatan dan mulai menuliskan apa saja yang terbersit di benak. Catat saja semuanya dan biarkan kata-kata bergulir apa adanya. Biarkan saja segala rasa yang ada, tumpah menjadi kata-kata…

Misalkan tadi kita mengandaikan ‘Ombak’ yang menjadi titik fokus, mungkin barisan kata berikut akan muncul :

Berdiri di tepian ombak
pergi dari pulau seberang
terpaku di semenanjung ragu

4. Menyunting Kembali Naskah

Ambillah jeda beberapa saat, sebelum mengedit (menyunting) naskah yang telah kita buat. Mungkin ada beberapa kata yang perlu dihilangkan atau ditambahkan. Bacalah berulang-ulang dan rasakan sensasi ketika membacanya. Bila ragu terhadap kehadiran kata tertentu, kita bisa menggantinya dengan kata baru yang lebih mewakili isi hati.

Bila kita kurang berkenan dengan pergi dari pulau seberang, kita bisa mulai mengganti kata-katanya, dan mencari padanan katanya. kata pergi mungkin bisa diwakili dengan beranjak, sedangkan pulau seberang bisa diganti beribu kilo, ataupun selaksa jarak tergantung sreg mana kita memilihnya.

Sepertinya ada rima antara beranjak dan jarak, karenanya akan lebih mengasyikkan kalau kata-kata ini yang dipilih. Jadinya :

Berdiri di tepian ombak
Beranjak dari ribuan jarak
terpaku di semenanjung ragu

5. Menerbitkan Naskah

Segera terbitkan naskah setelah selesai menyuntingnya. Kita bisa mengupload di blog, mengirimkan ke redaksi majalah/ koran, atau tempat-tempat lain. Senantiasa terbuka terhadap kritik akan membuat kita maju dan semakin matang dalam berkarya.

Selamat berkarya…!!!

Baca Artikel terkait :

Fungsi dan Definisi Puisi

Ragam Jenis Puisi

Apresiasi Puisi

Belajar Mengapresiasi Karya Sastra