Kiat Jitu Menulis Cerpen (2-habis)

(tulisan sebelumnya)

D. KALIMAT EFEKTIF

Kalimat Efektif merupakan kalimat yang berdaya guna yang langsung memberikan kesan pada pembaca. Bagaimanapun bagusnya isi sebuah cerpen, tidak akan menarik bila tidak diantarkan oleh kalimat-kalimat yang bagus. Bagaimana mungkin pembaca akan tertarik dengan cerpen yang bahasanya susah ditangkap? Kalimat-kalimat panjang, seperti kalimat majemuk, cenderung membebani pembaca. Karena itu, sedapat mungkin dikurangi penggunaannya. Fungsi kalimat tidak hanya memberitahukan sesuatu atau menanyakan sesuatu, tetapi lebih jauh, ia harus mampu mengantarkan pemahaman yang mencakup segala aspek ekspresi kejiwaan manusia.

Untuk merebut hati pembaca, penulis harus mampu membuat kalimat yang mampu mempengaruhi pembaca. Rangkaian peristiwa disusun sedemikian rupa, sehingga pembaca tertarik untuk membaca kelanjutannya. Kalimat demi kalimat, baik dalam bentuk dialog maupun narasi, disusun seefektif mungkin. Secara umum, langgam lisan lebih mengesankan dibandingkan langgam tulisan. Karena pada hakekatnya, bercerita sama dengan berbicara kepada orang lain. Perhatikan contoh berikut ini :

A1: “Aku kurang setuju dengan sikapmu terhadap diriku.”

B1: “Aku tidak bermaksud tak baik terhadapmu.”

Bandingkan lebih efektif mana, dengan contoh berikut:

A2: “Aku keberatan atas sikapmu.”

B2: ”Bukan maksudku begitu.”

Kalimat efektif juga dapat ditunjukkan oleh kalimat aktif, yang lebih mempunyai dampak psikis dibandingkan kalimat pasif.  Misalkan :

A3: “Beberapa orang  tidak suka tindak tanduknya.” (Aktif)

B3: “Tindak tanduknya tidak disukai beberapa orang.” (Pasif)

A4: “Badu membuka sepatunya dengan tergesa-gesa.”(Aktif)

B4: “Dengan tergesa-gesa dibukanya sepatunya oleh Badu.(Pasif)”

E. BUMBU-BUMBU

Enak dan gurihnya sebuah produk makanan ditentukan oleh komposisi bumbu-bumbunya yang sesuai dengan takarannya. Fungsi bumbu, berguna sebagai penyedap rasa dan memberi aroma. Dalam cerita, unsur seks dan humor adalah bumbu cerita, yang tidak berperan sebagai pokok gagasan. Sebab jika berlebihan dan dieksploitasi, cerita akan menjurus menjadi cerita seks (porno) atau cermor (Cerita humor).

Dalam sebuah cerpen yang beralur tunggal, seks atau humor berperan dalam menghidupkan suasana, atau bisa jadi merupakan sebuah bagian dari alur itu sendiri.

Waktu dilihatnya Yati tidak melawan dan hanya memejamkan matanya, Yusuf menjadi lebih berani lagi. Diciumnya berkali-kali mulut dan pipi gadis itu. Naluri atau nafsu laki-laki yang sudah menduda tiga tahun itu, agaknya sudah tidak dapat ditahan-tahan lagi. Dan sejak saat itu mereka sering bertemu, berkencan, melihat film, makan di restauran, bahkan sekali dua kali menginap di hotel.

“Yat, kau suka anak kecil enggak?”

“Tergantung anaknya bagaimana dan anak siapa?” .

(Ziarah lebaran, Umar Kayam)

“Jadi Roh jelas bintangmu adalah Scorpio. Bintang ini jatuhnya bulan Oktober, jadi kamu bisa merayakan ulang tahunmu bulan Oktober nanti. Pilih saja malam minggu bulan tua. Ya?!”

Roh bukannya gembira malah terkejut.

“Scorpio Nyonya?”
”Ya.”

“Saya tidak mau. Masak binatang saya Scorpio sama dengan Katijah. Saya tidak mau disama-samain dengan dia. Kalau Scorpio saya kira bukan. Bukan, ah!”

Nyonya menahan tawa.

“Habis kalau nggak Scorpio apa?”

“Ya apa kek, yang mendingan sedikit. Gemini. Atau Taurus atau bintang Virgo seperti yang dinyanyikan Ade Manuhutu itu.” (Roh, Putu Wijaya)

F. MENGGERAKKAN TOKOH (KARAKTER)

Sebagaimana drama yang ada di atas panggung, cerpen haruslah hidup. Penulis dituntut untuk bisa menghidupkan suasana, melalui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Ada 5 cara yang bisa digunakan oleh penulis untuk menggambarkan karakter tokoh-tokoh mereka.

Pertama, melalui perbuatan. Tindakan tokoh, terutama pada saat kritis mencerminkan watak mereka yang sesungguhnya. Pada situasi yang gawat, seseorang akan bertindak sesuai dengan watak aslinya.

Kedua, melalui ucapan. Dari ucapan tokoh dapat dikenali siapa dia sesungguhnya. Apakah ia seorang pemuda, orang berpendidikan tinggi atau rendah, pria atau wanita, berbudi halus atau kasar, kira-kira berasal dari suku mana, dll.

Ketiga, melalui penggambaran fisik tokoh. Seorang penulis haruslah mampu mengenalkan tokohnya, misalkan melalui penggambaran bentuk tubuh, raut wajah, tinggi badan, bentuk pakaian, dll.

Keempat, melalui pikiran tokoh. Dengan melukiskan pikiran tokoh, pembaca dapat mengetahui alasan sebuah tindakan yang dilakukan oleh tokoh, sehingga ada benang merah antara yang dipikirkan tokoh dan yang dilakukannya.

Kelima, melalui penerangan secara langsung. Penulis melukiskan dan memaparkan watak tokoh secara langsung. Contohnya  roman Siti Nurbaya, watak tokoh-tokohnya terlihat melalui gambaran langsung pengarangnya. Teknik ini kini mulai ditinggalkan oleh para penulis, karena terasa kuno.

Dalam novel penulis bisa berpanjang lebar  menjelaskan karakter tokohnya. Namun tidak demikian halnya dengan cerpen. Sedapat mungkin watak tokoh, baik yang terlihat dari tindak tanduk fisik maupun dalam narasi keadaan psikis, dapat terselip diantara semua paragraf. Contohnya berikut ini :

Lelaki berkacamata itu membuka kancing baju kemejanya bagian atas. Ia kelihatan gelisah, berkeringat, meski ia sedang berada dalam ruangan yang berpendingin. Akan tetapi ketika seorang perempuan cantik muncul dari balik koridor menuju lobi tempat lelaki berkaca mata itu menunggu, wajahnya berubah menjadi berseri-seri. Seakan lelaki itu begitu pandai menyimpan kegelisahannya.

“Sudah lama?”tanya perempuan itu sambil melempar senyum.

“Baru setengah jam,”jawabnya setengah bergurau.

Lebih jauh, silakan baca di sini dan disini

G. FOKUS CERITA (ALUR)

Alur dalam cerpen, hanyalah tunggal. Karena itu percabangan alur mutlak harus dihindarkan, agar fokus cerita tetap terjaga. Penulis pemula, sering tidak konsisten terhadap alur yang mereka buat. Tak jarang yang mereka tulis adalah kejadian-kejadian, bukannya alur cerita.

Menggulirkan Alur dalam cerpen, tak ubahnya seperti menggulirkan air, dari hulu menuju hilir.

Tentang beda dua hal ini, silakan simak di sini

H. SENTAKAN AKHIR (ENDING)

Cerpen harus diakhiri ketika persolan yang diutarakan penulis sudah dianggap selesai. Harus kembali diingat bahwa cerpen hanyalah memotret satu persoalan, pada satu kehidupan yang singkat(dalam hitungan detik, menit, jam, hari atau bulan). Karenanya, akan tampak lucu seandainya pada endingnya dibubuhkan keterangan,’Begitulah kisahnya, hingga mereka berdua hidup bahagia sampai akhir menutup mata.’

Ending sebuah cerpen, sedapat mungkin merupakan sentakan yang mampu  membuat pembaca terkesan. Kesan yang ditimbulkan, bisa beraneka ragam : tersenyum, terharu, sedih, merenung atau malah membuat penasaran.

Dalam Godlob, Danarto memaparkan cerita mengenai seorang anak yang dibunuh oleh sang ayah, agar anak tersebut dianggap pahlawan oleh masyarakat, pejabat dan sang politikus. Setelah sang ayah menceritakan yang sebenarnya pada istrinya, serta merta perempuan itu menggali kembali makam anaknya dan mengatakan pada sang pejabat dan politikus bahwa anaknya bukanlah pahlawan. Dia mati ditangan ayahnya sendiri. Dengan sekali tembakan, perempuan itu mengakhiri hidup suaminya.

Perempuan itu berdiri. Dengan wajah termangu ia memandang ke atas.

“Oh, nasibku, nasibku. Sedang kepada setanpun tak kuharapkan nasib yang demikian.”(Godlob, Danarto)

Sebuah keluhan tentang nasib mengakhiri cerpen Godlob. Secara tersirat sang penulis hendak menempatkan masalah nasib sebagai sesuatu yang lahir akibat perbuatan manusia sendiri. Keharuan dan rasa sedih menyeruak setelah membaca teks terakhirnya.

Dalam Roh, putu wijaya mengeksekusi ending ceritanya dengan sebuah humor yang menggelitik.

“Anu, Nyonya, saya pingin bikin pesta ulang tahun lagi.”

“Nyonya terkejut, menatap pembantunya itu dengan bengong.

“Lho, khan sudah?” (enam bulan yang lalu)

“Iya, tapi nggak apa deh, lagi…”

Terkadang ending sebuah cerpen, terutama cerpen mutakhir, dibiarkan terbuka. Pembaca dipersilakan untuk menafsirkan sendiri akhir ceritanya. Cerpen ‘Sukab dan Sepatu’ karya Seno Gumira Ajidarma adalah salah satu contohnya.

I. MENYUNTING

Setelah proses penulisan selesai, hal terpenting yang tidak boleh dilewatkan adalah proses penyuntingan.  Kesalahan ejaan, pemakaian kata yang monoton adalah hal utama yang perlu diperbaiki.

Satu atau dua hari setelah penulisan, silakan baca lagi cerita yang telah dibuat. Dan rasakan bedanya!  Kita mungkin melewatkan beberapa hal, atau terkadang menghamburkan kalimat-kalimat yang tidak penting. Kalimat-kalimat yang terlalu panjang juga perlu mendapat perhatian. Bila perlu, pecah kalimat majemuk yang panjang menjadi dua kalimat atau lebih. Lebih jauh, korelasikan cerita yang telah dibuat dengan tema. Kalimat yang hanya melemahkan alur atau membuat percabangan alur harus dipangkas habis.

J. MEMBERI JUDUL

Memberi judul pada sebuah cerpen adalah pekerjaan gampang-gampang susah, karena judul merupakan daya tarik bagi pembaca. Terkadang dari melihat judul, pembaca langsung menjustifikasi sebuah karya.

Beberapa judul berikut mungkin terdengar sudah klise :

Kemelut cinta, Akhir sebuah Harapan, Dimatamu kulihat cinta, Dimatamu ada bintang, dll.

Karena judul merupakan cerminan dari isi, ada baiknya judul di tulis belakangan. Walaupun demikian, tidak ada salahnya juga membuat judul di awal, sebagai rel yang akan menuntun kita untuk tetap fokus pada tema. Biarpun demikian, terkadang dalam proses penulisan terjadi penyimpangan ide, atau terjadi perkembangan baru dari ide awal. Untuk ini, diperlukan fleksibilitas.

Tidak ditemukan sebuah acuan, apakah judul harus dituliskan dengan satu kata, dua kata atau lebih. Masing-masing penulis memiliki selera tersendiri tentang judul yang mereka buat.  Judul cerpen Putu Wijaya selalu pendek, hanya terdiri dari satu kata.

Misalnya : Bom, Es, Gres, Protes, Blok, Klop, Bor, Darah, Yel, ZigZag, Tidak, atau Roh. Ada juga penulis yang senang pada dua kata, misalnya Pelajaran Mengarang, Paduan Suara, Kopi pahit, Dunia Sukab, dll.

Beberapa pengarang mempunyai kebiasaan untuk membuat judul cerpen dengan bernuansa puitis, seperti Berburu di Belantara Jakarta, Angin dari Gunung, Dimanakah Sri, sepotong Senja untuk pacarku, dll.

-=o0o=-