Belajar Menulis Cerita (BMC-05)

-=oOo=-

LATAR

Latar adalah segala keterangan, petunjuk, acuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar adalah lingkungan yang dapat berfungsi sebagai metonimia, metafora, atau ekspresi tokohnya (Wellek dan Waren, 1989).

Latar meliputi penggambaran letak geografis (topografi, pemandangan, perlengkapan, ruang, dimensi), pekerjaan atau kesibukan tokoh, waktu berlakunya kejadian, musim, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional tokoh.

FUNGSI LATAR

Ada beberapa fungsi latar, antara lain :

1. Memberikan informasi situasi sebagaimana adanya

2. Memproyeksikan keadaan batin tokoh

3. Mencitrakan suasana tertentu

4. Memperkokoh alur

CONTOH-CONTOH LATAR :

Latar Emosional (Cerpen Titian Aksara)

Serasa sebuah anugerah terhidang, tatkala kulihat dalam keremangan ruang seorang gadis datang mendekati. Setiap dia berkata desah hembus napasnya terasa hangat di genderang telinga.

Dan getaran itu perlahan menjalar ke dada. Seolah sebuah wadah berisi cairan yang terhangatkan tungku perapian. Gemuruh cairannya mempermainkan tutup wadahnya selayak ombak yang menggoda laju perahu. Dan kumerasa berada dalam perahu itu. Bergoyang ke kiri kanan terhembus sapaan bayu yang membuat mata ini semakin redup terbuai.

Latar Tempat (Cerpen Taman 1000 janji)

Gelap perlahan merayap. Tangan-tangannya yang perkasa merengkuh seluruh isi pulau. Terkecuali satu tempat, yang berpagar mercuri di sekelilingnya. Gelap tak pernah  berhasil menjejakkan kaki di sana, bahkan ketika PLN padam!

Tempat itu adalah area industri yang dikenal dengan sebutan Batamindo Mukakuning. Sebuah tempat di luar kota yang memiliki sistem penerangan  dan  telpon sendiri. Lebih dari 100 perusahan mendirikan pabriknya, bersebelahan dengan dormitory (asrama) yang menjadi hunian pekerja. Di antara pabrik dan Dormitory, terhampar taman yang cukup luas.

Latar Sosial ( Secangkir Teh : Secarik yang tercabik)

Kehidupan di kampus mengajarkan saya banyak hal. Hal terbesar yang terpatri begitu tinggi adalah nilai-nilai idealisme. Pada masa orientasi, nilai tersebut telah ditanamkan dan makin menebal seiring pengalaman saya sebagai salah satu aktivis kampus. Berbagai benturan dan tarik-ulur kepentingan semakin meyakinkan saya bahwa idealisme sampai kapanpun tak akan bisa dibeli oleh apapun. Masih terngiang kata-kata seorang senior  pada masa orientasi dulu bahwa jika idealisme kami sudah terbeli, itu sama halnya dengan melacurkan diri.

Latar Agama/Spiritual (Secangkir Teh : Antara Rasa Sayang dan Kehilangan)

Sesungguhnya segala sesuatu di dunia ini hanyalah titipan yang Maha Kuasa. Namun demikian seringkali manusia tidak sadar akan hal itu. Ketika barang yang dimiliki manusia diambil kembali oleh Pemilik Aslinya, barulah mereka tersentak.

Latar Waktu (Hujan Bulan Nopember)

Hari ini, setahun sudah berlalu. Ribuan menit telah mengorbit hari. Setiap detiknya, memercik rindu tak terkira.  Kurindu usapanmu, yang membelai wajahku penuh kehangatan. Kurindu aroma mawar, melati bercampur kenanga atau sedap malam yang melekat bersama hadirmu.

(Bersambung)