Belajar menulis Cerita (BMC-02)

Untuk lebih memahami tentang tokoh dan penokohan, ada baiknya kita baca sepintas, inti dari cerpen Dewi Ria Utari, ‘Kekasih’.


Kekasih, pernah kutandakan ribuan kecupan di tubuhmu, juga di tubuhnya…

Angin baru saja mengelus anak rambut yang berjatuhan di pelipisku, ketika ia tiba-tiba duduk di hadapanku. Saat itu, aku tengah menghirup kopi di sebuah kafe yang memasang beberapa meja dan kursi di trotoarnya. Aku satu-satunya yang duduk di luar ruangan kafe. Waktu terasa tanggung. Pagi sudah terlewati beberapa jam, sementara siang belum pantas dikenakan. Tepatnya pukul 10 pagi. Suasana lengang. Para pekerja sudah mendekam di kotak nafkah masing-masing. Yang tertinggal hanya para tetua, ibu rumah tangga, bocah-bocah kecil. Dan aku, seorang pelancong tak berumah.

Kekasih, dengan sabar ia melihatku mengoleskan bedak dan menyisir rambutku. Aku sebenarnya ingin berganti pakaian di depannya juga. Tapi menurutku itu terlalu cepat. Aku masih ingin terlihat sopan di kesan pertama. Karena itu  telah berhasil untukmu. Dan dengan senyuman semanis mungkin, aku memberi isyarat kepadanya bahwa aku siap untuk pergi.

Tiga tahun yang lalu, wajahku begitu berseri ketika engkau menyebut tentang rumah dan anak yang kau atasnamakan milik kita berdua. Ya…aku menyukai rencana itu. Mungkin. Karena sekarang aku merasakan bahwa kegembiraanku tak lebih dari sebuah keinginan untuk mengkategorikan diriku sebagai perempuan apa adanya. Sorry…bukan apa adanya, tapi sempurna. Cantik, pintar, dan menyukai sebuah keluarga. Aku menganggap tiga hal itu merupaan ukuran kesempurnaan. Setidaknya untuk Indonesia yang masih memerlukan konsep keibuan. Karena aku seorang chauvinis sejati yang haus akan pujian, yang dengan hati akan sumringah ketika setiap temanmu memuji kepintaranmu mencari calon istri.

Mungkin di situlah sebuah awal dimana aku lebih memperhatikan image ketimbang kengakui keegoisanku. Aku sibuk melahap citra tentang kesetiaan atas sebuah hubungan yang tak mungkin dari dua orang manusia beda agama—yang di Negara kita begitu muskil dipersatukan—berikut kerelaan seorang perempuan untuk sewaktu-waktu melepas kesuksesan kariernya demi sebuah konsep keluarga yang menurutku tidak jelas.

Kau ..dengan s egala keyakinan beningmu atas sebuah kekuasaan di luar kemampuan manusia yang menurutmu bisa menjadi jaminan atas semua persoalan duniawi, ternyata tak cukup kuat menyeretku keluar dari kotak hedonis dan sekularitasku.

Kekasih, seharusnya maaf kukirimkan ketika aku mengisyaratkan sebuah cinta yang tulus sejak awal hubungan kita. Tidak sekarang ini, setelah aku melewatkan malam bersamanya. Hidup adalah pilihan. Itu yang pernah kau ucapkan kepadaku. Aku menyetujuinya, untuk tidak menyiksamu lebih dalam lagi. Meski ia tidak mengharapkan aku untuk menghentikan hubungan denganmu, aku merasa ia lebih cocok untuk menemaniku—mungkin tiga bulan ke depan atau lebih.

TOKOH

Pada ‘Kekasih’, Dewi Ria Utari bercerita tentang perselingkuhan tokoh ‘Aku’ dengan ‘ia’. Padahal ‘Aku’ telah berhubungan sangat intens dengan ‘kekasih’ (kau). ‘Aku’ pada contoh di atas merupakan tokoh Protagonis, sedangkan ‘kekasih’ adalah tokoh antagonis. Tokoh ‘ia’ adalah tokoh bawahan.

Karena ‘keterbatasan lahan’, terkadang sebuah cerpen tidak mengungkapkan peran antagonis dari tokoh-tokohnya.

PENOKOHAN

a. Metode analitis/langsung/diskursif.

Penyajian watak tokoh dengan cara memaparkan watak tokoh secara langsung.

pada cerita di atas, Metode diskursif beberapa kali digunakan oleh sang pengarang Seperti pada :

Karena aku seorang chauvinis sejati yang haus akan pujian, yang dengan hati akan sumringah ketika setiap temanmu memuji kepintaranmu mencari calon istri.

Sorry…bukan apa adanya, tapi sempurna. Cantik, pintar, dan menyukai sebuah keluarga. Aku menganggap tiga hal itu merupaan ukuran kesempurnaan.


b. Metode dramatik/tak langsung.

Yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan tingkah-laku tokoh yang disajikan pengarang.

(Bersambung ke bagian 3)

Iklan