APRESIASI PUISI

Bentuk puisi umumnya padat dan eksplosif. Bentuk karya sastra ini paling sering digunakan untuk mewakili kegalauan perasaan, yang biasanya memotret sebuah emosi pada suatu ketika atau peristiwa.

Dalam pelajaran sastra dahulu, puisi didefinisikan sebagai karya yang terikat oleh :

  1. Banyaknya baris dalam tiap bait.
  2. Banyaknya kata dalam tiap baris
  3. Banyaknya suku kata dalam tiap baris
  4. Adanya rima, dan
  5. Irama

Definisi tersebut secara kontemporer telah berubah, seiring dengan perubahan manusia yang tak lagi ingin dikekang oleh bait/baris maupun rima yang membelenggu kebebasan mereka dalam merangkai kata tersebut.

Puisi Chairil Anwar : ‘Aku’, larik-lariknya tidak dibuat atas bait-bait.

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(Chairil Anwar, Maret 1943)

Begitu juga dengan puisi WS Rendra : Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api berikut :

Bagaimana mungkin kita bernegara

Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya

Bagaimana mungkin kita berbangsa

Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup

bersama ?

Itulah sebabnya

Kami tidak ikhlas

menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris

dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu

sehingga menjadi lautan api

Kini batinku kembali mengenang

udara panas yang bergetar dan menggelombang,

bau asap, bau keringat

suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki

langit berwarna kesumba

Walau terkadang masih ada rima yang menyertai di akhir baris, namun Rendra tak memaksakannya bila memang tak memungkinkannya.

Beberapa penulis puisi, mempunyai deskripsi sendiri tentang arti puisi. Berikut petikan beberapa di antaranya :

“ Berbicara puisi, mungkin (atau pasti) takkan ada ujungnya. Aku sendiri menganggap puisi adalah sesosok makhluk yang merupakan sebuah entitas mutlak, artinya ia ada dan menuntut untuk ada dalam kehidupan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Ia hadir dalam manusia, memilih manusia-manusia yang cocok untuk menuliskan dirinya.

Jalan kepenulisan itu memilih pelakunya sendiri.” (TS PINANG)


“Puisi adalah serangkaian pertanyaan yang tidak berhasrat memburu jawaban.”

(Hasan Aspahani)


Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi di antara baris-barisnya yang terang. Dimintanya aku tetap redup dan remang.” (Joko Pinurbo)


Apapun definisinya, puisi yang baik selayaknya menyajikan makna yang bisa dinikmati pembacanya. Agar rangkaian makna tersebut bisa diserap, pembaca harus masuk ke dalamnya dan mencoba memberikan penafsiran.

Berikut langkah-langkah yang dapat dijadikan acuan dalam memahami sebuah karya puisi

1. Pembacaan teks puisi secara eksplisit.

Makna secara eksplisit dapat kita cermati dengan melihat perwujudan teks itu sendiri, Diksi (pilihan kata), rangkaian sintaksisnya, dan makna semantisnya. Pilihan kata menyodorkan kekayaan nuansa makna, yang pernik-perniknya akan membuat bahasa menjadi lebih indah dan dalam maknanya.

Rangkaian sintaksis berhubungan dengan maksud yang hendak disampaikan penulis, serta logika yang digunakan yang berkaitan dengan pemikiran/ekspresi yang disajikan.

Makna semantik berkenaan dengan kedalaman makna setiap kata.

2. Pembacaan teks puisi secara implisit.

Makna secara implisit berkaitan dengan intepretasi, latar belakang (yang mungkin ditemukan), simbol dan perlambang yang menyertai makna di belakang puisi tersebut. Assosiasi (pertautan) dan imajinasi terkadang berperan besar dalam mengungkap makna.

Di Meja Makan

Ruang diributi jerit dada

Sambal tomat pada mata

Meleleh air racun dosa

Baris pertama, memberi bayangan tentang kegelisahan yang tak terperikan. Mengungkapkan hati yang sedang diliputi ketakutan/penderitaan, atau kemelut yang tak terpecahkan. Baris berikutnya, lebih menegaskan lagi tentang derita yang sangat pedih dan perih itu. Baris tersebut mengasosiasikan kepedihan mata yang dinyatakan lewat perihnya mata yang terkena sambal. Baris berikutnya, seolah menyimpulkan dan memberi penegasan bahwa penderitaan dan kegelisahan itu disebabkan oleh perbuatan dosa. Meleleh air racun dosa, bisa diartikan sebagai ungkapan penyesalan yang mendalam.

3. Memperkaitkan makna eksplisit dan makna implisit untuk mendapatkan gambaran tentang amanat/ tema yang diusung puisi.

Berbobot tidaknya puisi dapat diamati dari pencitraan yang dilakukan penulis terhadap isi dan makna puisi mereka yang terkadang disamarkan untuk tujuan tertentu.

TITIK BIDIK :

  1. Puisi akan menjadi lebih bagus apabila memuat unsur-unsur berikut :
    1. Memiliki nilai estetika (keindahan)  pada kata/baitnya.
    2. Memberikan pencerahan pada pembaca
    3. Mampu memperkaya kosa kata, makna kata, ungkapan dan bahasa secara keseluruhan
  2. Tidak diperlukan penafsiran yang sama dalam mengapresiasi sebuah karya sastra, termasuk juga puisi. Asal masih dalam koridor yang logis, pemaknaan boleh saja berbeda, tergantung cara pandang masing-masing orang.

Mari Berkarya dan terus berkarya…!!!


Baca Artikel terkait :

Fungsi dan Definisi Puisi

Ragam Jenis Puisi

Apresiasi Puisi

Belajar Mengapresiasi Karya Sastra