Belajar Menulis : Jenis Tulisan dan Strukturnya

Berikut beberapa tips yang bisa menambah referensi sahabat penulis ketika akan menulis berdasarkan jenis tulisan. Dalam tips berikut diberikan juga penjelasan untuk menghindari bias di dalam tulisan yang kita susun. Tips ini didapatkan dari salah satu tulisan di blog Jennie S. Bev.

Tips Menulis: Jenis Tulisan dan Strukturnya

  1. Tulisan ilmiah

Tulisan ilmiah memerlukan kalimat tesis, premis, dan hipotesis yang kuat barulah bisa dibuatkan kerangka berpikir untuk diuraikan lagi dalam beberapa bab dengan riset mendalam. Metodologi penelitian dan deviasi mesti bisa diuraikan dengan jelas, bahkan kalau perlu dikuantifikasikan. Biasanya, tulisan-tulisan ilmiah ini termasuk disertasi, tesis, skripsi, dan artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah.

Kekuatan, ketajaman, dan kejernihan berpikir sangat menentukan hasil akhir yang agak “berat” dan “datar” karena segala macam unsur subjektif harus diminimalkan, terutama yang akan menimbulkan logika yang miring. Tulisan macam ini adalah tulisan yang berdasarkan pikiran. Bias diminimalisasi sedemikian rupa dengan pengujian-pengujian hipotesa dan segala macam tes logika yang miring. Tulisan ini mengandalkan pikiran, hampir tanpa unsur perasaan alias subjektifitas, kecuali dari bias latar belakang penulisnya dan ilmu yang dipelajarinya.

  1. Tulisan opini

Ini semi-semi ilmiah, namun unsur subjektifnya besar karena penulis bebas memasukkan sudut pandang dari hatinya sendiri. Struktur tulisan-tulisan opini biasanya dimulai dengan introduksi yang bisa juga berbentuk kalimat tanya atau suatu asumsi. Kesimpulannya gampang saja, tinggal menjawab pertanyaan di paragraf awal atau mengiyakan/menyangkal asumsi. Tubuh artikelnya yang lebih memerlukan banyak data dan pengolahan pikiran.

  1. Tulisan jurnalistik

Untuk jenis tulisan yang satu ini, saya belajar di Amerika Serikat sehingga standar yang dipakai adalah standar The Associated Press. Intinya kedengaran cukup mudah: paragraf-paragraf disusun berdasarkan kepentingan. Semakin penting informasinya, ditaruh semakin atas. Semakin tidak penting dan bisa dengan mudah disingkirkan tanpa mengubah arti dan kredibilitas reportase, akan ditaruh semakin di bawah. Tujuannya apa? Supaya menghemat waktu editing.

Penulisan reportase macam ini biasanya tidak memasukkan unsur-unsur subjektif, kecuali bias alami berdasarkan latar belakang penulisnya atau media yang diwakilinya. Dari membaca artikelnya sendiri, biasanya hampir tidak ada bias yang bisa ditarik secara eksplisit.

  1. Tulisan jurnalistik “feature”

Nah, yang satu ini sepertinya sudah diajarkan di bangku sekolah. Mudah saja: pengantar, tubuh, dan kesimpulan. Pengantarnya bisa bentuk ringkasan dari tubuh artikel, bisa juga kalimat tesis, atau apa saja, termasuk kutipan yang mewakili isi dari tubuh artikel. Tubuh artikelnya juga bisa berbentuk cerobong, piramida terbalik, maupun pipa. Tulis saja seindah dan sesubjektif yang Anda mau. Tidak begitu banyak aturannya.

  1. Tulisan ngepop, seperti untuk blogging atau “review” pendek.

Idealnya tetap ada pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Namun, kalau tidak cukup tempat saking singkatnya, cukup menuliskan beberapa ide pokok saja. Tidak perlu bertingkat kalau memang tidak memungkinkan. Jelas subjektifitas sangat tinggi dan Anda bisa memuji/mencaci dengan tanpa banyak halangan.

Diambil dan diedit seperlunya dari:
Situs : Jennie For Indonesia
Penulis : Jennie S. Bev
Alamat url: http://www.jennieforindonesia.com/?p=286

Baca juga Artikel berikut :

Hambatan Menulis dan cara Mengatasinya

Motivasi Menulis

Tips Menulis Efektif

Jenis-Jenis Tulisan & Strukturnya