Desember 2009


  1. Berpikir bahwa Menulis adalah Hal yang Sulit.

Menulis memang sulit, dan tentu saja menulis memang sulit, bagi yang berpikir demikian. Padahal bila kita berpandangan sebaliknya, menulis akan terasa ringan dan mudah. Kita tinggal menggerakkan jari-jari di atas tuts keyboard, atau mencoret2 di atas kertas. Semakin terbiasa kita,  semakin lincah dan mahir kita melakukannya.

Mengubah paradigma adalah hal pertama yang harus dilakukan untuk menjadi seorang penulis handal, yang produktif dalam berkarya.

Menulis hanya membutuhkan 1% bakat, dan selebihnya adalah kemauan kita dalam berusaha, berusaha dan selalu berusaha!!!

2. Kebiasaan Malas & Menunda-nunda.

Kebiasaan kedua yang harus kita hancurkan adalah kebiasaan malas dan menunda-nunda waktu. Bagi penulis pemula, ide tidak muncul setiap waktu. Karenanya, menunda-nunda pekerjaan menulis mengakibatkan hilangnya kesempatan mereka dalam berkarya.

Saat ide tersebut datang, segeralah ambil pena dan kertas dan mulailah menulis. Jika tidak memungkinkan, catat ide-ide global yang menjadi kata kuncinya. (kita bisa menuliskannya di HP, misalnya).

Jadwalkan waktu satu-dua jam sehari untuk menulis. Berkomitmenlah pada diri sendiri untuk menepatinya.

3. Berpikir bahwa Kita Tidak Cukup Kompeten.

Karena keterbatasan pemikiran, terkadang kita membatasi diri pada topik yang kita ketahui. Kita menulis hanya pada ruang lingkup yang membuat kita ‘nyaman’. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut membuat kita stagnan dan tidak bisa mengembangkan diri.

Belajar hal baru adalah kunci untuk membuka cakrawala kita. Akan banyak ide yang bergulir jika ‘wadah’ dalam diri diperluas. Bila kita merasa tak kompeten dalam bidang sastra, itu berarti mulai sekarang kita mesti memperbanyak bacaan sastra. Bila kita sama sekali buta filsafat, itu berarti mulai sekarang kita  harus memperkaya kosa kata bijak dari para pendahulu.

4. Kehabisan Ide.

Terkadang, saat berada di depan layar Komputer, atau saat sudah memegang pena dan kertas, hujan ide yang tadi deras datangnya, seolah lenyap tiba-tiba.

Bagaimana mengatasinya?

a.       Rekam ulang memori, sambil memejamkan mata, merekontruksi apa yang pernah terlintas dalam benak.

b.      Baca kembali KATA KUNCI yang telah ditulis/dicatat sebelumnya. (saat hujan ide datang, segeralah mencatat ide-ide penting, yang menarik minat).

c.       Lakukan Icebreaking dengan cara :

* Blogwalking:  membaca bahan atau cerita hasil karya orang lain,

* Searching gambar-gambar yang berkenaan dengan ide yang akan ditulis, untuk menguatkan daya imajinasi.

* Putar musik yang sesuai dengan selera! Bila tulisan kita sifatnya menggugah semangat, putar musik yang agak menghentak. Bila tulisan kita sifatnya kontemplasi/perenungan, putar musik dengan irama pelan.

Selamat Mencoba…!!!

Lihat juga artikel terkait :

Motivasi Menulis

Tips Menulis Efektif

Jenis-Jenis Tulisan & Strukturnya


Sebagian besar orang beranggapan bahwa menulis adalah sesuatu hal yang sulit dilakukan. Mereka bahkan tak tahu dari mana harus memulai pertama kali.

Asumsi ini tentu saja salah, karena hanya dengan mengambil sebuah pena, kita sudah bisa mencorat-coret sesuatu. Bila berada di depan komputer/laptop, kita bisa dengan segera mengetikkan apapun yang ada di kepala. Nah, setelah selesai menulis, lihat kembali tulisan. Mengagumkan, bukan?!

Bila  ingin mengembangkan tulisan, ada baiknya kita mengikuti kebiasaan 7 Habits ala Steven R Covey, Selalu merujuk pada Tujuan Akhir. Dengan kata lain, apa yang anda tulis, haruslah bermakna atau berguna (dalam Quantum Learning, hal ini disebut AMBAK : Apa Manfaatnya Bagiku).

Motivasi dalam hal apapun, termasuk menulis akan mengalir deras jika kita bisa merumuskan Tujuan kita dalam menulis. Beebrapa hal berikut, mungkin bisa menjadi penggerak diri kita :

1. Tuntutan Pekerjaan.

Para penulis naskah/cerita, jurnalis, perensi biasanya menulis karena tuntutan profesi mereka. Eksistensi mereka akan selaras dengan ide kreatif yang mereka ciptakan.

Kita mungkin tak memiliki kesamaan profesi dengan mereka, namun begitu kitapun bisa  menulis sama produktifnya dengan mereka. Beberapa caranya, di antaranya adalah ‘meniru’ kebiasaan mereka dalam berkarya.

Setiap pagi, biasanya seorang jurnalis mulai hunting berita. Sore atau malam, mereka akan membuat berita yang harus sudah selesai tengah malam, sebelum dicetak untuk diterbitkan keesokan harinya.

Dengan cara yang sama, kita bisa meniru langkah mereka. Setiap hari banyak ‘berita’ yang bisa kita tuliskan. Mulai dari lingkungan rumah/tempat tinggal, Lingkungan kerja, aktivitas harian. Yang perlu kita lakukan, menyediakan waktu beberapa jam untuk merekam peristiwa yang menurut kita paling menarik untuk ditulis pada hari itu. Usahakan tulisan selesai pada saat itu juga. Bilapun belum, setidaknya ada satu’draft’ tulisan yang telah kita buat pada hari itu.

2. Interaksi Sosial.

Semakin canggihnya era informasi dewasa ini membuat makin banyak ruang untuk berkomunikasi. Bertukar berita melalui email, bergabung dalam komunitas milis, mengikuti jejaring sosial seperti Facebook, Multiply, dll akan bisa memicu diri kita produktif dalam menulis.

Hubungan sosial ataupun personal dengan orang lain bisa kita buat sebagai bahan tulisan. Adanya informasi baru yang kita terima, akan makin memperkaya wacana sehingga bisa memacu diri dalam berkarya.

3. Ingin diakui/ Mendapatkan penghargaan.

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah ingin mendapat pengakuan/pujian. Menjamurnya blog adalah sebuah bukti bahwa dalam diri manusia ada kebutuhan untuk eksis. Menulis adalah salah satu sarana untuk mendapatkan pengakuan & penghargaan dari orang lain.

Bila orang lain membaca tulisan kita dan mereka mengapresiasi positif, hal tersebut akan memicu diri  untuk lebih produktif  lagi dalam berkarya. Karena itu marilah berteman dengan orang yang selalu mendukung dan memotivasi kita.

4. Kepuasan diri.

Ada kalanya orang  menulis untuk kepuasan dirinya. Biasanya orang tersebut adalah orang yang menulis dengan sepenuh hati, menyatukan pikiran dan jiwanya, dengan penuh cita rasa. Jenis penulis  seperti ini, biasanya  akan mampu melahirkan karya besar yang sangat dinanti pembacanya.

Baca juga Artikel berikut :

Hambatan Menulis dan cara Mengatasinya

Tips Menulis Efektif

Jenis-Jenis Tulisan & Strukturnya

Menulis merupakan salah satu kegiatan positif, sebagai salah satu media yang ampuh untuk mengatasi stress.  Dengan menulis, kita  bisa menumpahkan semua beban perasaan kita, sehingga pikiran yang sebelumnya terasa ‘keruh’ akan bisa menjadi jernih.

Kegiatan menulis juga bisa kita gunakan untuk menuangkan ide atau gagasan yang ada di pikiran kita, sehingga dapat dibaca dan dipahami orang lain. Dengan menulis, kita bisa berbagi pengetahuan dan hasil pembelajaran  kepada orang lain sehingga bermanfaat bagi sesama.

Walaupun kelihatannya mudah, namun ternyata pada prakteknya tidak semua orang mudah melakukan kegiatan ini. Banyak di antaranya yang justru mengalami kesulitan pada waktu pertama kali hendak menulis. Terkadang mereka mengalami kebuntuan ide/gagasan,  terkadang tengah enggan/malas, merasa tidak bisa, tidak mampu atau tidak kompeten, takut, dan lain-lain. Semua hambatan ini HARUS dihancurkan, jika kita ingin menjadi penulis handal, yang produktif dalam berkarya.

1.      Mulailah Secepat Mungkin

Jika suatu gagasan datang, segera tumpahkan apa yang ada di kepala. Jangan menunggu atau menunda-nunda! Duduklah di depan komputer/laptop dan mulailah menuliskan SEMUA yang terlintas di benak. Jangan hiraukan kesalahan tanda baca atau ejaan. Bila saat itu keadaan tidak memungkinkan (karena tengah berada dalam perjalanan, jauh dari komputer, dll), ambillah pena dan kertas. Tuliskan KATA KUNCI yang menjadi pokok-pokok pikiran gagasan. Kembangkan gagasan tersebut segera setelahnya!

Jika suatu saat kita ingin menulis, namun belum ada ide yang bergulir, jangan khawatir. Pejamkan kedua mata. Rekam ulang peristiwa yang kita alami seharian. Adakah yang memiliki kesan? Jangan terburu-buru menghakimi bahwa semua peristiwa datar-datar saja. Rekam ulang kembali memori kita sekali lagi. Sedang dimana siang tadi? Saat pulang, pemandangan apa yang menarik di perjalanan? Keramaian Bus kota? Anak-anak pengamen? Pepohonannya? Bidik satu titik yang paling menarik minat.

Mulailah menulis, menulis dan menulis. Tumpahkan semua yang ada di pikiran pada saat itu. Ungkapkan kekesalan, kesedihan, kekecewaan, kemarahan, kebencian, penyesalan, keprihatinan, ataupun kekaguman. Bisa  juga rasa heran, bimbang, rasa senang, rasa sayang atau cinta. Dobrak batasan dogma yang ada. Jangan pedulikan kemana arah tulisan yang dibuat. Apakah bentuknya prosa atau puisi (?), Apakah cerita atau opini (?),  Jangan hiraukan sekarang. Teruslah menulis, sampai pena kering, sampai isi kepala terasa kosong…

2.      Iringi dengan Musik

Belahan otak kanan otak kita akan menjadi aktif bila terstimulasi oleh musik. Karenanya, pilihlah musik-musik favorit, agar mood menulis tetap terjaga. Hadirnya musik yang sesuai dengan suasana hati, akan membuat tulisan yang kita buat  makin hidup.

3.      Pilihlah Waktu yang Paling Sesuai

Bangun pagi sebenarnya  adalah waktu yang tepat untuk mulai menulis. Inspirasi kadang bisa menyapa melalui mimpi. Karenanya ada baiknya kita mengingat-ingat mimpi kita sebelumnya. Catat Kata Kuncinya, bila kita tak memliki waktu lebih untuk menulis. Nanti, setelah ada waktu luang, kembangkan gagasan tersebut.

Kesibukan kerja terkadang membuat sebagian orang tak memiliki waktu luang untuk menorehkan tulisan. Karena itu, sebagian orang merasa nyaman untuk menulis pada sore hari, atau malam. Suasana hening biasanya mampu menambah daya imajinasi.

Untuk menjadi penulis yang efektif, kita harus mulai berkomitmen terhadap waktu. Pilihlah waktu luang satu-dua jam tiap hari, untuk menulis. Pilihlah tempat yang membuat kita nyaman dalam menulis dengan mengurangi sebanyak mungkin gangguan dari luar.

4.      Perbanyak Aktivitas Fisik

Dengan sering-sering bergerak, syaraf motorik  kita akan menjadi lebih berkembang. Banyak pengalaman baru yang bisa direkam otak, dan hal ini sangat bagus untuk menambah inspirasi dan sensasi-imajinasi. Kita akan lebih handal bercerita tentang detail-detail mengendarai mobil bila pernah memegang kemudi, bukan?

Berolahraga yang teratur akan membuat fisik kita menjadi sehat dan kuat. Hal tersebut penting dilakukan, untuk mengimbangi aktivitas menulis yang tak jarang menguras energi.

Senam otak juga dianjurkan untuk relaksasi, guna mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang.

5.      Uraikan menjadi Detail

Setelah kita menumpahkan ‘pena di meja’, kini saatnya ‘membersihkan noda-nodanya’. Salah ketik ejaan, salah tanda baca adalah ‘noda’ yang harus segera dihilangkan.

Berikutnya, tanyakan pada diri sendiri, akan dibawa ke arah mana penulisan tersebut? Opini atau cerita?! Puisi atau Prosa?

Kekuatan puisi adalah pada mantra kata-kata. Rima dan irama adalah kekuatan pendukungnya. Bila karya kita mau dibuat puisi, padatkan kata-katanya. Hilangkan kata-kata yang tak berguna.

Sedapat mungkin hilangkan imbuhan kata yang kurang penting, seperti :’yang’, ‘lalu’, kemudian’, ‘lantas’, ‘selanjutnya’, ‘dan’, ‘berikutnya’,’sedang,’akan’, ‘telah’, dan  kata lain yang memboroskan.

Baca ulang puisi kita untuk lebih meresapi sensasinya. Cari padanan kata dan hindarkan pemakaian kata yang berulang-ulang, kecuali memang dimaksudkan untuk menambah ketegasan makna atau peristiwa.

Bila karya kita berbentuk prosa, tambahkan setting/latar cerita. Perkuat gambaran yang timbul, yang akan menambah deskripsi dan narasi tulisan.

6.      Tumbuhkan Kebiasaan Membaca

Menulis dan membaca adalah kebiasaan yang saling tertaut. Banyak wawasan baru yang akan kita dapatkan dengan banyak-banyak membaca. Belajar dari karya orang lain sesungguhnya juga membuat kita belajar bagaimana proses kreatif mereka terbentuk.

Memperbanyak bahan bacaan akan membuat wawasan kita menjadi lebih luas. Banyak hal baru yang akan kita dapatkan dari sana, seperti ragam kehidupan dengan segala pernik dan maknanya,  penggunaan bahasa dan pemakaian kata-katanya, gaya penulisan dan lain sebagainya.

Membaca majalah, koran, novel, cerpen, lirik lagu, puisi, ensiklopedia, buku-buku nonfiksi, peribahasa, komik, atau apa saja juga bisa memicu datangnya inspirasi. Karenanya jangan segan-segan menuliskannya begitu inspirasi itu hadir tiba-tiba.

7.      Gunakan Kode Warna

Contoh pemakaian warna (berdasarkan ide/gagasan) :

Kuning  untuk tulisan yang berkenaan dengan keceriaan, biru untuk kedalaman makna dan penghayatan, merah untuk penyemangat dan pengingat, hijau untuk kesegaran dan kesejukan (atau yang berhubungan dengan alam), dll.

Contoh pemakaian warna (berdasarkan fungsi penulisan) :

Hitam untuk semua penulisan awal. Merah untuk kata atau kalimat yang masih dalam proses editing (pada saat itu belum ditemukan kata/kalimat yang lebih pas, yang lebih mewakili). Tulisan berwarna hijau mewakili kata/kalimat yang telah mengalami proses editing. Tulisan biru mewakili gagasan baru, atau gagasan tambahan yang disisipkan pada sebuah kalimat atau paragraf…dan lain-lain.

8.      Tantanglah diri sendiri

Musuh terbesar adalah diri sendiri. Jika anda telah berhasil menaklukkannya, sesungguhnya keberhasilan tinggal menunggu waktu saja! Egoisme diri adalah satu sifat diri yang apabila digunakan untuk tujuan yang tepat, akan sangat membantu keberhasilan dan kesuksesan.

Karenanya, tantanglah ego yang ada dalam diri kita. Beranikah menerima tantangan :    membuat satu tulisan satu hari?

Selamat mencoba..!!!

Baca juga Artikel berikut :

Hambatan Menulis dan cara Mengatasinya

Motivasi Menulis

Jenis-Jenis Tulisan & Strukturnya


Belajar Menulis : Jenis Tulisan dan Strukturnya

Berikut beberapa tips yang bisa menambah referensi sahabat penulis ketika akan menulis berdasarkan jenis tulisan. Dalam tips berikut diberikan juga penjelasan untuk menghindari bias di dalam tulisan yang kita susun. Tips ini didapatkan dari salah satu tulisan di blog Jennie S. Bev.

Tips Menulis: Jenis Tulisan dan Strukturnya

  1. Tulisan ilmiah

Tulisan ilmiah memerlukan kalimat tesis, premis, dan hipotesis yang kuat barulah bisa dibuatkan kerangka berpikir untuk diuraikan lagi dalam beberapa bab dengan riset mendalam. Metodologi penelitian dan deviasi mesti bisa diuraikan dengan jelas, bahkan kalau perlu dikuantifikasikan. Biasanya, tulisan-tulisan ilmiah ini termasuk disertasi, tesis, skripsi, dan artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah.

Kekuatan, ketajaman, dan kejernihan berpikir sangat menentukan hasil akhir yang agak “berat” dan “datar” karena segala macam unsur subjektif harus diminimalkan, terutama yang akan menimbulkan logika yang miring. Tulisan macam ini adalah tulisan yang berdasarkan pikiran. Bias diminimalisasi sedemikian rupa dengan pengujian-pengujian hipotesa dan segala macam tes logika yang miring. Tulisan ini mengandalkan pikiran, hampir tanpa unsur perasaan alias subjektifitas, kecuali dari bias latar belakang penulisnya dan ilmu yang dipelajarinya.

  1. Tulisan opini

Ini semi-semi ilmiah, namun unsur subjektifnya besar karena penulis bebas memasukkan sudut pandang dari hatinya sendiri. Struktur tulisan-tulisan opini biasanya dimulai dengan introduksi yang bisa juga berbentuk kalimat tanya atau suatu asumsi. Kesimpulannya gampang saja, tinggal menjawab pertanyaan di paragraf awal atau mengiyakan/menyangkal asumsi. Tubuh artikelnya yang lebih memerlukan banyak data dan pengolahan pikiran.

  1. Tulisan jurnalistik

Untuk jenis tulisan yang satu ini, saya belajar di Amerika Serikat sehingga standar yang dipakai adalah standar The Associated Press. Intinya kedengaran cukup mudah: paragraf-paragraf disusun berdasarkan kepentingan. Semakin penting informasinya, ditaruh semakin atas. Semakin tidak penting dan bisa dengan mudah disingkirkan tanpa mengubah arti dan kredibilitas reportase, akan ditaruh semakin di bawah. Tujuannya apa? Supaya menghemat waktu editing.

Penulisan reportase macam ini biasanya tidak memasukkan unsur-unsur subjektif, kecuali bias alami berdasarkan latar belakang penulisnya atau media yang diwakilinya. Dari membaca artikelnya sendiri, biasanya hampir tidak ada bias yang bisa ditarik secara eksplisit.

  1. Tulisan jurnalistik “feature”

Nah, yang satu ini sepertinya sudah diajarkan di bangku sekolah. Mudah saja: pengantar, tubuh, dan kesimpulan. Pengantarnya bisa bentuk ringkasan dari tubuh artikel, bisa juga kalimat tesis, atau apa saja, termasuk kutipan yang mewakili isi dari tubuh artikel. Tubuh artikelnya juga bisa berbentuk cerobong, piramida terbalik, maupun pipa. Tulis saja seindah dan sesubjektif yang Anda mau. Tidak begitu banyak aturannya.

  1. Tulisan ngepop, seperti untuk blogging atau “review” pendek.

Idealnya tetap ada pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Namun, kalau tidak cukup tempat saking singkatnya, cukup menuliskan beberapa ide pokok saja. Tidak perlu bertingkat kalau memang tidak memungkinkan. Jelas subjektifitas sangat tinggi dan Anda bisa memuji/mencaci dengan tanpa banyak halangan.

Diambil dan diedit seperlunya dari:
Situs : Jennie For Indonesia
Penulis : Jennie S. Bev
Alamat url: http://www.jennieforindonesia.com/?p=286

Baca juga Artikel berikut :

Hambatan Menulis dan cara Mengatasinya

Motivasi Menulis

Tips Menulis Efektif

Jenis-Jenis Tulisan & Strukturnya