Puisi dapat didefinisikan  sebagai :

“Hasil cipta manusia yang terdiri atas satu atau beberapa larik (baris) yang memperlihatkan pertalian makna dan membentuk bait. Keindahan puisi terletak pada persamaan bunyi (rima, sajak) dan iramanya” (Kamus lengkap Bahasa Indonesia, Hoetomo M.A, 2005).

Definisi puisi yang lain, silakan dilihat  di sini.

Jenis puisi beraneka ragam, tergantung klasifikasinya.


Berdasarkan zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.

1. Puisi Lama

Puisi yang sifatnya masih asli, belum terpengaruh oleh Barat.

a.    Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.

b.    Disampaikan lewat mulut ke mulut, sehingga bisa juga disebut sastra lisan.

c.    Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

2. Puisi baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Berdasarkan bentuk dan isinya, puisi lama dibedakan atas :

1. Mantra adalah ucapan-ucapan (kata-kata) yang mengandung hikmat, dan memiliki kekuatan gaib.

2. Bidal atau peribahasa, yang meliputi :

a. Pepatah : Kiasan yang dinyatakan dengan kalimat.

b. Ungkapan : kiasan yang dinyatakan dengan sepatah kata

c. Perumpamaan : mengungkapkan keadaan/kelakuan seseorang dengan mengambil perbandingan alam sekitarnya.

d. Tamsil/Ibarat : Perumpamaan yang diiringi dengan penjelasan

e. Pemeo : kata-kata/slogan yang menjadi popular karena sering diucapkan kembali, berisi dorongan semangat atau ejekan.

3. Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi.

Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/ nasihat, teka-teki dan jenaka.

Pembagian pantun menurut bentuknya :

a. Pantun biasa

b. Pantun berkait : Terdiri dari beberapa bait yang sambung-menyambung.

Disebut juga pantun berantai, atau seloka.

c.  Talibun : terdiri dari 6, 8 atau 10 baris.
d.  Pantun kilat (Karmina) : terdiri dari 2 baris (baris pertama sampiran, baris kedua isi). Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab (dari kata syu’ur=perasaan) yang berciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita. Menurut isinya, syair dibedakan menjadi : Syair dongeng, syair sindiran, syair hikayat, syair cerita kejadian, dan syair agama/budi pekerti.

4. Gurindam :  puisi yang berisi nasehat, yang tiap bait 2 baris, bersajak a-a. Baris pertama merupakan syarat, baris kedua berisi akibat.

Berdasarkan isinya, puisi baru dibedakan menjadi:

1. Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.

Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut “Orang-orang Tercinta”. Kumpulan baladanya yaitu, Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie.

2. Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau orang yang dimuliakan

3. Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa dalam masyarakat (pahlawan).

Contohnya : “Teratai” karya Sanusi Pane, “Diponegoro” karya Chairil Anwar, dan “Ode Buat Proklamator” karya Leon Agusta.

4. Epigram, slogan,s emboyan atau sajak cetusan adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.

5. Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.

Contohnya : “Empat Kumpulan Sajak” Karya WS Rendra.

6. Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.

Misalnya “Elegi Jakarta” karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota Jakarta.

7. Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik atau kecaman.

Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi/gagasannya, puisi dibedakan menjadi:

1. Puisi Naratif

Puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Yang termasuk puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair.

2. Puisi Lirik

Puisi yang mengungkapkan gagasan pribadi penyair (biasanya disebut juga aku lirik). Dalam puisi lirik, penyair  tidak bercerita. Jenis puisi lirik, misalnya: elegi, ode, dan serenade (sajak percintaan yang bisa dinyanyikan).

3. Puisi Deskriptif

Penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan / peristiwa, benda, atau suasana dipandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat diklasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya puisi satire, kritik sosial (yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya), dan puisi-puisi impresionitik (yang mengungkapkan kesan penyair terhadap suatu hal).

Berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan (David Daiches), puisi dibedakan menjadi:

1. Puisi Fisikal

Puisi yang bersifat realistis, artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang didengar, dilihat, atau dirasakan merupakan obyek ciptaannya. Puisi-puisi naratif, balada, impresionistis, juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal.

2. Puisi Platonik

Puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Puisi-puisi ide atau cita-cita, religius, ungkapan cinta pada seorang kekasih, anak pada orang tuanya dan sebaliknya, dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi puisi platonik.

3. Puisi Metafisikal

Puisi yang bersifat filosofis,  mengajak pembaca untuk merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius dapat disebut sebagai puisi platonik (karena menggambarkan ide atau gagasan penyair), atau bisa juga digolongkan sebagai puisi metafisik (karena mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan Tuhan), Karya Jalaludin Rumi dapat diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.

Berdasarkan obyek yang menjadi sumber gagasan, puisi dibedakan menjadi:


1. Puisi Subyektif / Puisi Personal

Puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang ditulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif, karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian pula puisi lirik dimana aku lirik berbicara kepada pembaca.

2. Puisi Obyektif/ Puisi Impersonal

Puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakan adalah puisi obyektif, meskipun juga ada beberapa puisi yang subyektif.

Berdasarkan kedalaman maknanya, puisi dibedakan menjadi:

1. Puisi Diafan/ Puisi polos

Puisi yang kurang memiliki pencitraan, terutama dalam hal diksi yang terlalu ‘biasa’, sehingga mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi diafan sangat mudah dihayati maknanya.

Biasanya, puisi anak-anak atau puisi yang ditulis oleh orang yang baru belajar menulis puisi dapat diklasifikasikan dalam puisi diafan. Kelemahan utama pada karya-karya tersebut adalah,  belum adanya harmonisasi bentuk fisik dalam mengungkapkan makna.

Takaran yang dibuat untuk kiasan (metafora), lambang, simbol masih kurang tepat, baik letak maupun komposisinya. Jika puisi dibuat terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sebaliknya jika puisi itu kering akan majas dan versifikasi, maka itu akan menjadi puisi yang bersifat prosaik dan terlalu gamblang untuk diartikan sehingga diklasifikasikan sebagai puisi diafan.

2. Puisi Prismatis

Puisi yang mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma.

Bisa jadi akan ada bermacam-macam makna yang muncul, karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragam itu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut.
Penyair-penyair seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis.

3. Puisi Gelap

Puisi yang sukar dimaknai. Terlampau banyak penggunaan majas, metafora, simbolisasi terkadang justru membenamkan arti/makna puisi itu sendiri. Mungkin hanya pengarangnya yang bisa membaca arti puisinya.

APRESIASI PUISI

Bentuk puisi umumnya padat dan eksplosif. Bentuk karya sastra ini paling sering digunakan untuk mewakili kegalauan perasaan, yang biasanya memotret sebuah emosi pada suatu ketika atau peristiwa.

Dalam pelajaran sastra dahulu, puisi didefinisikan sebagai karya yang terikat oleh :

  1. Banyaknya baris dalam tiap bait.
  2. Banyaknya kata dalam tiap baris
  3. Banyaknya suku kata dalam tiap baris
  4. Adanya rima, dan
  5. Irama

Definisi tersebut secara kontemporer telah berubah, seiring dengan perubahan manusia yang tak lagi ingin dikekang oleh bait/baris maupun rima yang membelenggu kebebasan mereka dalam merangkai kata tersebut.

Puisi Chairil Anwar : ‘Aku’, larik-lariknya tidak dibuat atas bait-bait.

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(Chairil Anwar, Maret 1943)

Begitu juga dengan puisi WS Rendra : Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api berikut :

Bagaimana mungkin kita bernegara

Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya

Bagaimana mungkin kita berbangsa

Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup

bersama ?

Itulah sebabnya

Kami tidak ikhlas

menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris

dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu

sehingga menjadi lautan api

Kini batinku kembali mengenang

udara panas yang bergetar dan menggelombang,

bau asap, bau keringat

suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki

langit berwarna kesumba

Walau terkadang masih ada rima yang menyertai di akhir baris, namun Rendra tak memaksakannya bila memang tak memungkinkannya.

Beberapa penulis puisi, mempunyai deskripsi sendiri tentang arti puisi. Berikut petikan beberapa di antaranya :

“ Berbicara puisi, mungkin (atau pasti) takkan ada ujungnya. Aku sendiri menganggap puisi adalah sesosok makhluk yang merupakan sebuah entitas mutlak, artinya ia ada dan menuntut untuk ada dalam kehidupan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Ia hadir dalam manusia, memilih manusia-manusia yang cocok untuk menuliskan dirinya.

Jalan kepenulisan itu memilih pelakunya sendiri.” (TS PINANG)


“Puisi adalah serangkaian pertanyaan yang tidak berhasrat memburu jawaban.”

(Hasan Aspahani)


Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi di antara baris-barisnya yang terang. Dimintanya aku tetap redup dan remang.” (Joko Pinurbo)


Apapun definisinya, puisi yang baik selayaknya menyajikan makna yang bisa dinikmati pembacanya. Agar rangkaian makna tersebut bisa diserap, pembaca harus masuk ke dalamnya dan mencoba memberikan penafsiran.

Berikut langkah-langkah yang dapat dijadikan acuan dalam memahami sebuah karya puisi

1. Pembacaan teks puisi secara eksplisit.

Makna secara eksplisit dapat kita cermati dengan melihat perwujudan teks itu sendiri, Diksi (pilihan kata), rangkaian sintaksisnya, dan makna semantisnya. Pilihan kata menyodorkan kekayaan nuansa makna, yang pernik-perniknya akan membuat bahasa menjadi lebih indah dan dalam maknanya.

Rangkaian sintaksis berhubungan dengan maksud yang hendak disampaikan penulis, serta logika yang digunakan yang berkaitan dengan pemikiran/ekspresi yang disajikan.

Makna semantik berkenaan dengan kedalaman makna setiap kata.

2. Pembacaan teks puisi secara implisit.

Makna secara implisit berkaitan dengan intepretasi, latar belakang (yang mungkin ditemukan), simbol dan perlambang yang menyertai makna di belakang puisi tersebut. Assosiasi (pertautan) dan imajinasi terkadang berperan besar dalam mengungkap makna.

Di Meja Makan

Ruang diributi jerit dada

Sambal tomat pada mata

Meleleh air racun dosa

Baris pertama, memberi bayangan tentang kegelisahan yang tak terperikan. Mengungkapkan hati yang sedang diliputi ketakutan/penderitaan, atau kemelut yang tak terpecahkan. Baris berikutnya, lebih menegaskan lagi tentang derita yang sangat pedih dan perih itu. Baris tersebut mengasosiasikan kepedihan mata yang dinyatakan lewat perihnya mata yang terkena sambal. Baris berikutnya, seolah menyimpulkan dan memberi penegasan bahwa penderitaan dan kegelisahan itu disebabkan oleh perbuatan dosa. Meleleh air racun dosa, bisa diartikan sebagai ungkapan penyesalan yang mendalam.

3. Memperkaitkan makna eksplisit dan makna implisit untuk mendapatkan gambaran tentang amanat/ tema yang diusung puisi.

Berbobot tidaknya puisi dapat diamati dari pencitraan yang dilakukan penulis terhadap isi dan makna puisi mereka yang terkadang disamarkan untuk tujuan tertentu.

TITIK BIDIK :

  1. Puisi akan menjadi lebih bagus apabila memuat unsur-unsur berikut :
    1. Memiliki nilai estetika (keindahan)  pada kata/baitnya.
    2. Memberikan pencerahan pada pembaca
    3. Mampu memperkaya kosa kata, makna kata, ungkapan dan bahasa secara keseluruhan
  2. Tidak diperlukan penafsiran yang sama dalam mengapresiasi sebuah karya sastra, termasuk juga puisi. Asal masih dalam koridor yang logis, pemaknaan boleh saja berbeda, tergantung cara pandang masing-masing orang.

Mari Berkarya dan terus berkarya…!!!


Baca Artikel terkait :

Fungsi dan Definisi Puisi

Ragam Jenis Puisi

Apresiasi Puisi

Belajar Mengapresiasi Karya Sastra

DEFINISI PUISI

Samuel Taylor Coleridge
Puisi adalah kata-kata terbaik dalam susunan terbaik.

Edgar Allan Poe
Puisi adalah adalah ciptaan tentang sesuatu keindahan dalam bentuk berirama. Citarasa adalah unsur yang diutamakan. Hubungan dengan budaya intelek atau dengan suara hati hanya merupakan hubungan yang selintas. Jika bukan secara kebetulan, ia tidak akan mengena langsung dengan fungsi utamanya atau dengan kebenaran.

William Wordsworth
Puisi adalah pengucapan yang imajinatif dari perasaan yang mendalam, biasanya berirama. Pengucapan secara spontan tentang perasaan yang memuncak timbul dari daya ingatan ketika berada dalam keadaan tenang.

Matthew Arnord
Puisi adalah. kritikan tentang kehidupan menurut keadaan yang ditentukan oleh kritikan untuk kritikan itu sendiri melalui beberapa peraturan tentang keindahan dan kebenaran yang puitis.

Theodore Watts-Dunton
Puisi adalah satu pengucapan yang konkrit dan artistik tentang pikiran manusia melalui penggunaan bahasa yang emosional dan berirama.

Andrew Bradley
Puisi adalah terdiri daripada rangkaian pengalaman tentang bunyi, image, pemikiran dan emosi-yang kita alami sewaktu kita membacanya dengan cara sepuitis mungkin.

Edwin Arlington Robinson
Puisi adalah bahasa yang menyampaikan sesuatu yang sukar hendak dinyatakan, tidak dapat diperkirakan puisi itu benar atau sebaliknya.

Auden
Puisi lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

Shelley
Puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita (manusia).

H. B. Jassin
Puisi merupakan pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandung pikiran-pikiran dan tanggapan-tanggapan

Baha Zain
Puisi tidak berbicara segalanya dan tidak kepada semua. Ia adalah pengucapan suatu fragmen pengalaman dari suatu keseluruhan seorang seniman.

Muhammad Hj. Salleh
Puisi adalah bentuk sastra yang kental dengan musik bahasa serta kebijaksanaan penyair dan tradisinya. Dalam segala kekentalan itu, maka puisi setelah dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana.

Shahnon Ahmad
Puisi adalah record dan interpretasi pengalaman manusia yang penting dan digubah dalam bentuk yang paling berkesan.

Usman Awang
Puisi bukanlah nyanyian orang putus asa yang mencari ketenangan dan kepuasan dalam puisi yang ditulisnya. Tapi puisi ialah satu pernyataan sikap terhadap sesuatu atau salah satu atau keseluruhan kehidupan manusia.

A. Samad Said
Puisi pada hakikatnya adalah satu pernyataan perasaan dan pandangan hidup seorang penyair yang memandang sesuatu peristiwa alam dengan ketajaman perasaannya. Perasaan yang tajam inilah yang menggetar rasa hatinya, yang menimbulkan semacam gerak dalam daya rasanya. Lalu ketajaman tanggapan ini berpadu dengan sikap hidupnya mengalir melalui bahasa, menjadilah ia sebuah puisi, satu pengucapan seorang penyair.

FUNGSI PUISI

Matthew Arnold
Puisi merupakan keistimewaan tersendiri, ia memberikan sumbangan kepada perbendaharaan pengalaman atau pengetahuan manusia.

Aristotle
Puisi yang bersifat tragis berupaya membersihkan kerohanian manusia melalui rasa simpati atau belas kasihan

Maliere
Puisi mampu membawa manusia ke arah jalan yang lurus disamping menggelikan hati.

Shelley
Puisi memperkuat organ moral manusia sama seperti pendidikan jasmani yang memperkuat urat-urat dalam badan, dan puisi juga bisa membawa kita untuk melihat apa yang kita tidak pernah kita lihat, untuk mendengar apa yang tak pernah kita dengar.

Waldo Emerson
Puisi mengajar sebanyak mungkin dengan kata-kata sedikit mungkin.

Shahnon Ahmad
Puisi adalah untuk menyemarakkan kesadaran. Umtuk memanusiakan kembali manusia itu, meninggikan budi pekerti, membentuk perwatakan dan juga membangkitkan semangat untuk bertindak.

Usman Awang
Puisi adalah untuk menimbulkan kesedaran atau keinsafan dalam diri dan hati.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.