Belajar Menulis Cerita (BMC-04)

ALUR

Alur merupakan urutaan atau rangkaian peristiwa dalam cerita rekaan. Urutan peristiwa dapat tersusun atas dasar tiga hal, yakni :

1. Berdasarkan urutan waktu terjadinya.

Alur dengan susunan peristiwa berdasarkan kronologis kejadian disebut alur   linear. Disebut alur maju, bila rangkaian peristiwa yang membentuknya berurutan sesuai dengan urutan waktu kejadian. Disebut Alur mundur bila  rangkaian peristiwa yang disusun, tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian.

2. Berdasarkan hubungan kausalnya/sebab akibat.

Alur berdasarkan hubungan sebab-akibat disebut alur kausal. E.M Foster dalam bukunya Aspect of the Novel, lebih sepakat bahwa alur merupakan hubungan kausalitas antar peristiwa. Sedangkan yang tidak berhubungan disebut sebagai jalan cerita.

Sebagai contoh :

1. “Raja wafat karena diracun permaisurinya.”

2. “Raja wafat ketika permaisurinya sedang berada di taman”

Contoh pertama disebut alur, karena ada kausalitas (sebab akibat), sedangkan contoh kedua adalah jalan cerita, karena hanya berupa rangkaian cerita, yang tidak didasari oleh kausalitas.

3. Berdasarkan tema cerita.

Alur berdasarkan tema cerita disebut alur tematik.

Struktur Alur

Setiap karya sastra  mempunyai rangkaian cerita yang khas. Namun demikian, ada beberapa unsur yang ditemukan pada hampir semua cerita. Unsur-unsur tersebut merupakan pola umum alur cerita, yang terdiri dari :

Bagian awal

paparan (exposition)

rangsangan (inciting moment)

gawatan (rising action)

Bagian tengah

tikaian (conflict)

rumitan (complication)

klimaks

Bagian akhir

leraian (falling action)

selesaian (denouement)

Tidak semua cerita harus dimulai dari paparan (exposition).  Beberapa cerpen justru  memulai bagian awalnya  dari rangsangan. Ada juga cerita yang justru dimulai dari bagian tengahnya. Cerita semacam itu disebut dengan in media res. Beberapa karya yang lain, justru memulai cerita dari peristiwa akhir (Flash back). Adalah selera pengarang untuk memulai ceritanya dari bagian yang manapun.

Hampir semua novel terbitan balai Pustaka sebelum Indonesia merdeka, menggunakan struktur alur yang sama : bagian awal, tengah dan akhir. Di bagian awal, pengarang mendeskripsikan keadaan/gambaran fisik dan psikis tokoh-tokohnya, berikut latar tempatnya. Setelah peristiwa mencapai klimaks, dibagian akhir pengarang memanfaatkan peristiwa tersebut untuk menyampaikan nasehatnya. Tokoh utama berbahagia bila ia baik, dan meninggal atau sengsara bila ia jahat.

Novel Atheis (1949) adalah contoh novel yang menggunakan alur flashback. Peristiwa di bagian awal novel dimulai dari kematian tokoh utamanya, Hasan, yang sebenarnya merupakan akhir semua peristiwa yang dialami tokoh tersebut. Beberapa struktur novel yang mempunyai alur hampir sama dengan Novel Atheis diantaranya, Gairah untuk hidup dan untuk mati, Kubah dan Anak tanah Air.

Penulis novel Indonesia mutakhir sepertinya sengaja membuat struktur alur yang berbeda dengan apa yang sudah dilakukan oleh novelis sebelumnya. Novel Priyayi, karya Umar Kayam, membuat tokoh-tokoh yang semuanya terkesan membentuk ceritanya sendiri. Antara tokoh satu dan lainnya seperti tidak saling berhubungan, kecuali satu tokoh : Sastrodarsono.  Karya-karya Iwan Simatupang,  Putu Wijaya, Kuntowijaya atau Budi Darma malah terkesan mengabaikan struktur alur dan hubungan kausalitas di dalamnya. Mereka bercerita tentang peristiwa-peristiwa yang satu sama lain sepertinya tidak saling berhubungan. Dibutuhkan kejelian untuk membaca maksud penulisnya.

Titik Bidik :

Untuk tahapan awal, sangat disarankan membuat kerangka alur yang menunjukkan kausalitas antar peristiwa. Membuat karya dengan alur demikian lebih mudah daripada membuat karya dengan alur tematis/kronologis.

Cukup dengan bertanya ‘Apa’, ‘Mengapa’ dan ‘Bagaimana’ ala 5W1H (What, Where, When, Why, Who, dan How), kita dengan mudah  bisa membuat ceritanya.

Sebagai contoh, sebutlah dua tokoh sembarang sebagai lakon utama : Bintang dan Bulan misalnya.  Ada apa dengan Bintang? Ada apa dengan Bulan? Mengapa mereka bertemu? Bagaimana bisa begitu? Berpisahkah mereka pada akhirnya?

Contoh I

Bulan yang telah merindukan Bintang berbulan-bulan lamanya, mengajak bintang bertemu pada suatu senja. Mereka bercengkerama tentang kesendirian yang menyapa hari-hari mereka. Hari-hari lalu, yang tak ingin mereka jumpai kembali. Merekapun sepakat untuk selalu bersama, mengarungi gulita semesta…

Contoh II

Aku nggak tahu kenapa orang tuanya memberi nama bulan. Apakah karena sinarnya yang menghangatkan dan menentramkan? Enggak juga. Malah sebaliknya. Bertemu dengannya saja aku sudah muak. Ingin sesekali menonjok mukanya yang jerawatan itu…!

Nggak seperti aku, tentunya, yang diberi nama Bintang. Karena cemerlang sinarku. Secemerlang prestasiku, yang selalu rangking satu. Tapi itu dulu, sebelum Bulan pindah sekolah kemari…

(Bersambung ke bagian 5)

=o0o=

Sumber Tulisan :
9 Jawaban Sastra Indonesia, Maman S. Mahayana
Membaca Sastra, Melani Budianta, DKK
Bermain dengan Cerpen, Maman S. Mahayana

Kiat Jitu Menulis Cerpen (2-habis)

(tulisan sebelumnya)

D. KALIMAT EFEKTIF

Kalimat Efektif merupakan kalimat yang berdaya guna yang langsung memberikan kesan pada pembaca. Bagaimanapun bagusnya isi sebuah cerpen, tidak akan menarik bila tidak diantarkan oleh kalimat-kalimat yang bagus. Bagaimana mungkin pembaca akan tertarik dengan cerpen yang bahasanya susah ditangkap? Kalimat-kalimat panjang, seperti kalimat majemuk, cenderung membebani pembaca. Karena itu, sedapat mungkin dikurangi penggunaannya. Fungsi kalimat tidak hanya memberitahukan sesuatu atau menanyakan sesuatu, tetapi lebih jauh, ia harus mampu mengantarkan pemahaman yang mencakup segala aspek ekspresi kejiwaan manusia.

Untuk merebut hati pembaca, penulis harus mampu membuat kalimat yang mampu mempengaruhi pembaca. Rangkaian peristiwa disusun sedemikian rupa, sehingga pembaca tertarik untuk membaca kelanjutannya. Kalimat demi kalimat, baik dalam bentuk dialog maupun narasi, disusun seefektif mungkin. Secara umum, langgam lisan lebih mengesankan dibandingkan langgam tulisan. Karena pada hakekatnya, bercerita sama dengan berbicara kepada orang lain. Perhatikan contoh berikut ini :

A1: “Aku kurang setuju dengan sikapmu terhadap diriku.”

B1: “Aku tidak bermaksud tak baik terhadapmu.”

Bandingkan lebih efektif mana, dengan contoh berikut:

A2: “Aku keberatan atas sikapmu.”

B2: ”Bukan maksudku begitu.”

Kalimat efektif juga dapat ditunjukkan oleh kalimat aktif, yang lebih mempunyai dampak psikis dibandingkan kalimat pasif.  Misalkan :

A3: “Beberapa orang  tidak suka tindak tanduknya.” (Aktif)

B3: “Tindak tanduknya tidak disukai beberapa orang.” (Pasif)

A4: “Badu membuka sepatunya dengan tergesa-gesa.”(Aktif)

B4: “Dengan tergesa-gesa dibukanya sepatunya oleh Badu.(Pasif)”

E. BUMBU-BUMBU

Enak dan gurihnya sebuah produk makanan ditentukan oleh komposisi bumbu-bumbunya yang sesuai dengan takarannya. Fungsi bumbu, berguna sebagai penyedap rasa dan memberi aroma. Dalam cerita, unsur seks dan humor adalah bumbu cerita, yang tidak berperan sebagai pokok gagasan. Sebab jika berlebihan dan dieksploitasi, cerita akan menjurus menjadi cerita seks (porno) atau cermor (Cerita humor).

Dalam sebuah cerpen yang beralur tunggal, seks atau humor berperan dalam menghidupkan suasana, atau bisa jadi merupakan sebuah bagian dari alur itu sendiri.

Waktu dilihatnya Yati tidak melawan dan hanya memejamkan matanya, Yusuf menjadi lebih berani lagi. Diciumnya berkali-kali mulut dan pipi gadis itu. Naluri atau nafsu laki-laki yang sudah menduda tiga tahun itu, agaknya sudah tidak dapat ditahan-tahan lagi. Dan sejak saat itu mereka sering bertemu, berkencan, melihat film, makan di restauran, bahkan sekali dua kali menginap di hotel.

“Yat, kau suka anak kecil enggak?”

“Tergantung anaknya bagaimana dan anak siapa?” .

(Ziarah lebaran, Umar Kayam)

“Jadi Roh jelas bintangmu adalah Scorpio. Bintang ini jatuhnya bulan Oktober, jadi kamu bisa merayakan ulang tahunmu bulan Oktober nanti. Pilih saja malam minggu bulan tua. Ya?!”

Roh bukannya gembira malah terkejut.

“Scorpio Nyonya?”
”Ya.”

“Saya tidak mau. Masak binatang saya Scorpio sama dengan Katijah. Saya tidak mau disama-samain dengan dia. Kalau Scorpio saya kira bukan. Bukan, ah!”

Nyonya menahan tawa.

“Habis kalau nggak Scorpio apa?”

“Ya apa kek, yang mendingan sedikit. Gemini. Atau Taurus atau bintang Virgo seperti yang dinyanyikan Ade Manuhutu itu.” (Roh, Putu Wijaya)

F. MENGGERAKKAN TOKOH (KARAKTER)

Sebagaimana drama yang ada di atas panggung, cerpen haruslah hidup. Penulis dituntut untuk bisa menghidupkan suasana, melalui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Ada 5 cara yang bisa digunakan oleh penulis untuk menggambarkan karakter tokoh-tokoh mereka.

Pertama, melalui perbuatan. Tindakan tokoh, terutama pada saat kritis mencerminkan watak mereka yang sesungguhnya. Pada situasi yang gawat, seseorang akan bertindak sesuai dengan watak aslinya.

Kedua, melalui ucapan. Dari ucapan tokoh dapat dikenali siapa dia sesungguhnya. Apakah ia seorang pemuda, orang berpendidikan tinggi atau rendah, pria atau wanita, berbudi halus atau kasar, kira-kira berasal dari suku mana, dll.

Ketiga, melalui penggambaran fisik tokoh. Seorang penulis haruslah mampu mengenalkan tokohnya, misalkan melalui penggambaran bentuk tubuh, raut wajah, tinggi badan, bentuk pakaian, dll.

Keempat, melalui pikiran tokoh. Dengan melukiskan pikiran tokoh, pembaca dapat mengetahui alasan sebuah tindakan yang dilakukan oleh tokoh, sehingga ada benang merah antara yang dipikirkan tokoh dan yang dilakukannya.

Kelima, melalui penerangan secara langsung. Penulis melukiskan dan memaparkan watak tokoh secara langsung. Contohnya  roman Siti Nurbaya, watak tokoh-tokohnya terlihat melalui gambaran langsung pengarangnya. Teknik ini kini mulai ditinggalkan oleh para penulis, karena terasa kuno.

Dalam novel penulis bisa berpanjang lebar  menjelaskan karakter tokohnya. Namun tidak demikian halnya dengan cerpen. Sedapat mungkin watak tokoh, baik yang terlihat dari tindak tanduk fisik maupun dalam narasi keadaan psikis, dapat terselip diantara semua paragraf. Contohnya berikut ini :

Lelaki berkacamata itu membuka kancing baju kemejanya bagian atas. Ia kelihatan gelisah, berkeringat, meski ia sedang berada dalam ruangan yang berpendingin. Akan tetapi ketika seorang perempuan cantik muncul dari balik koridor menuju lobi tempat lelaki berkaca mata itu menunggu, wajahnya berubah menjadi berseri-seri. Seakan lelaki itu begitu pandai menyimpan kegelisahannya.

“Sudah lama?”tanya perempuan itu sambil melempar senyum.

“Baru setengah jam,”jawabnya setengah bergurau.

Lebih jauh, silakan baca di sini dan disini

G. FOKUS CERITA (ALUR)

Alur dalam cerpen, hanyalah tunggal. Karena itu percabangan alur mutlak harus dihindarkan, agar fokus cerita tetap terjaga. Penulis pemula, sering tidak konsisten terhadap alur yang mereka buat. Tak jarang yang mereka tulis adalah kejadian-kejadian, bukannya alur cerita.

Menggulirkan Alur dalam cerpen, tak ubahnya seperti menggulirkan air, dari hulu menuju hilir.

Tentang beda dua hal ini, silakan simak di sini

H. SENTAKAN AKHIR (ENDING)

Cerpen harus diakhiri ketika persolan yang diutarakan penulis sudah dianggap selesai. Harus kembali diingat bahwa cerpen hanyalah memotret satu persoalan, pada satu kehidupan yang singkat(dalam hitungan detik, menit, jam, hari atau bulan). Karenanya, akan tampak lucu seandainya pada endingnya dibubuhkan keterangan,’Begitulah kisahnya, hingga mereka berdua hidup bahagia sampai akhir menutup mata.’

Ending sebuah cerpen, sedapat mungkin merupakan sentakan yang mampu  membuat pembaca terkesan. Kesan yang ditimbulkan, bisa beraneka ragam : tersenyum, terharu, sedih, merenung atau malah membuat penasaran.

Dalam Godlob, Danarto memaparkan cerita mengenai seorang anak yang dibunuh oleh sang ayah, agar anak tersebut dianggap pahlawan oleh masyarakat, pejabat dan sang politikus. Setelah sang ayah menceritakan yang sebenarnya pada istrinya, serta merta perempuan itu menggali kembali makam anaknya dan mengatakan pada sang pejabat dan politikus bahwa anaknya bukanlah pahlawan. Dia mati ditangan ayahnya sendiri. Dengan sekali tembakan, perempuan itu mengakhiri hidup suaminya.

Perempuan itu berdiri. Dengan wajah termangu ia memandang ke atas.

“Oh, nasibku, nasibku. Sedang kepada setanpun tak kuharapkan nasib yang demikian.”(Godlob, Danarto)

Sebuah keluhan tentang nasib mengakhiri cerpen Godlob. Secara tersirat sang penulis hendak menempatkan masalah nasib sebagai sesuatu yang lahir akibat perbuatan manusia sendiri. Keharuan dan rasa sedih menyeruak setelah membaca teks terakhirnya.

Dalam Roh, putu wijaya mengeksekusi ending ceritanya dengan sebuah humor yang menggelitik.

“Anu, Nyonya, saya pingin bikin pesta ulang tahun lagi.”

“Nyonya terkejut, menatap pembantunya itu dengan bengong.

“Lho, khan sudah?” (enam bulan yang lalu)

“Iya, tapi nggak apa deh, lagi…”

Terkadang ending sebuah cerpen, terutama cerpen mutakhir, dibiarkan terbuka. Pembaca dipersilakan untuk menafsirkan sendiri akhir ceritanya. Cerpen ‘Sukab dan Sepatu’ karya Seno Gumira Ajidarma adalah salah satu contohnya.

I. MENYUNTING

Setelah proses penulisan selesai, hal terpenting yang tidak boleh dilewatkan adalah proses penyuntingan.  Kesalahan ejaan, pemakaian kata yang monoton adalah hal utama yang perlu diperbaiki.

Satu atau dua hari setelah penulisan, silakan baca lagi cerita yang telah dibuat. Dan rasakan bedanya!  Kita mungkin melewatkan beberapa hal, atau terkadang menghamburkan kalimat-kalimat yang tidak penting. Kalimat-kalimat yang terlalu panjang juga perlu mendapat perhatian. Bila perlu, pecah kalimat majemuk yang panjang menjadi dua kalimat atau lebih. Lebih jauh, korelasikan cerita yang telah dibuat dengan tema. Kalimat yang hanya melemahkan alur atau membuat percabangan alur harus dipangkas habis.

J. MEMBERI JUDUL

Memberi judul pada sebuah cerpen adalah pekerjaan gampang-gampang susah, karena judul merupakan daya tarik bagi pembaca. Terkadang dari melihat judul, pembaca langsung menjustifikasi sebuah karya.

Beberapa judul berikut mungkin terdengar sudah klise :

Kemelut cinta, Akhir sebuah Harapan, Dimatamu kulihat cinta, Dimatamu ada bintang, dll.

Karena judul merupakan cerminan dari isi, ada baiknya judul di tulis belakangan. Walaupun demikian, tidak ada salahnya juga membuat judul di awal, sebagai rel yang akan menuntun kita untuk tetap fokus pada tema. Biarpun demikian, terkadang dalam proses penulisan terjadi penyimpangan ide, atau terjadi perkembangan baru dari ide awal. Untuk ini, diperlukan fleksibilitas.

Tidak ditemukan sebuah acuan, apakah judul harus dituliskan dengan satu kata, dua kata atau lebih. Masing-masing penulis memiliki selera tersendiri tentang judul yang mereka buat.  Judul cerpen Putu Wijaya selalu pendek, hanya terdiri dari satu kata.

Misalnya : Bom, Es, Gres, Protes, Blok, Klop, Bor, Darah, Yel, ZigZag, Tidak, atau Roh. Ada juga penulis yang senang pada dua kata, misalnya Pelajaran Mengarang, Paduan Suara, Kopi pahit, Dunia Sukab, dll.

Beberapa pengarang mempunyai kebiasaan untuk membuat judul cerpen dengan bernuansa puitis, seperti Berburu di Belantara Jakarta, Angin dari Gunung, Dimanakah Sri, sepotong Senja untuk pacarku, dll.

-=o0o=-

Setelah Browsing di beberapa tempat tak jua menemukan tulisan yang komperehensif tentang Tips atau Kiat-kiat penulisan cerpen, saya mencoba merangkum beberapa buku dan mengkompilasinya menjadi tulisan berikut, yang disertai beberapa contoh praktis. Masukan dan saran pembaca, khususnya anggota MBB sangat diperlukan untuk mengembangkan kiat-kiat ini, agar tepat guna.

Bahan-bahan :

Kiat Menulis Cerita Pendek, Harris Effendi Thahar
Bermain dengan cerpen, Maman S. Mahayana
Apresiasi cerpen Indonesia Mutakhir, Korie Layun Rampan

-=o0o=-

Kiat jitu Menulis Cerpen (1)

A. PARAGRAF PERTAMA

Selain judul, paragraf pertama adalah etalase sebuah cerpen. Menarik tidaknya barang-barang yang ditawarkan, bisa dilihat dari kaca etalase depannya. Demikian halnya cerpen. Ketika paragraf mulanya mulai dibaca, lantas tidak menarik, besar kemungkinan pembaca tidak akan melanjutkannya  hingga tamat. Bisa jadi hal ini disebabkan karena paragraf awal terlalu biasa, tidak mengundang rasa penasaran, terkesan menggurui, dan lain-lain.

Di beberapa referensi disebutkan bahwa penulis mempunyai empat kalimat awal untuk dicicipi pembaca. Bila empat kalimat awal ini gagal menghadirkan rasa yang menawan, jangan terlampau berharap pembaca akan meneruskan membacanya.

Dalam hidup dan kehidupan ini, manusia senantiasa dihadapkan pada pilihan dan nasib. Nasib tak selalu cocok dengan pilihan. Terkadang terlalu jauh dari pilihan cita-cita hingga tragedi demi tragedi terjadi. Tragedi yang menyayat perasaan memeras air mata. Begitulah yang terjadi pada Rika, gadis yang malang.

Kesan menggurui amat terasa pada contoh di atas, Siapa yang tidak tahu bahwa nasib itu tidak sama dengan cita-cita hidup?

Jakarta musim kemarau.

Seorang overste MPP berpakaian preman mandi keringat di atas bis kota Merantama. Bus penuh sesak. Overste MPP yang bernama Marzuki itu terus didesak oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia mengharapkan udara segara, bukan bau keringat. (Budi, Chairul Harun)

Dari kutipan di atas, begitu paragraf pertama diluncurkan, cerita mulai berjalan. Dari lima kalimat pendek, pembaca sudah mendapatkan informasi padat tentang suasana di atas bus kota, nama tokoh, status sosialnya, dan cuaca.

Sebuah cerpen dapat diibaratkan sebagai bangunan. Paragraf pertama adalah beranda depan, yang bisa jadi ada taman mungil, bunga-bunga penghias,  meja dan kursi untuk bersantai di pinggirnya, atau hal-hal lain yang menarik mata orang yang memandangnya. Semakin menarik cerita, orang akan tergugah membacanya. Apa yang ada di benak anda saat membaca paragraf awal berikut?

Gagak-gagak hitam bertebahan dari angkasa, sebagai gumpalan-gumpalan batu yang dilemparkan, kemudian mereka berpusar-pusar, tiap-tiap gerombolan membentuk lingkaran sendiri-sendiri, besar dan kecil, tidak keruan sebagai benang kusut. Laksana sean maut yang compang-camping mereka buas dan tidak mempunyai ukuran hingga mereka loncat ke sana loncat kemari, terbang ke sana terbang kemari, dari bangkau mayat yang satu ke gumpalan daging yang lain. Dan burung-burung ini jelas kurang tekun dan membakar padang gundul yang luas itu, yang di atasnya berkaparan tubuh-tubuh yang gugur, prajurit-prajurit yang baik, yang sudah mengorbankan satu-satunya milik yang tidak bisa dibeli: nyawa! Ibarat sumber yang mati mata airnya, hingga tamatlah segala kegiatan, perahu-perahu mandek dan kandas pada dasar sungainya dan bayi menangis karena habisnya susu ibu. (Godlob, Danarto)

B. MEMPERTIMBANGKAN PEMBACA

Penulis merupakan produsen yang menghasilkan sebuah produk (dalam bentuk tulisan), yang nantinya akan dikonsumsi oleh pembaca. Karenanya, adalah sebuah keniscayaan untuk senantiasa menjaga mutu tulisan agar layak baca, menarik dan bermanfaat. Membuat cerita menarik sebenarnya gampang-gampang susah, karena selera pembaca amat beragam. Ada yang menyukai cerita jenis horor, komedi, drama, dll. Karena itu, mencoba membuat cerita dengan bermacam-macam genre, akan membantu kita untuk mengasah kreativitas. Pada gilirannya nanti, kita akan mengetahui dengan sendirinya, genre mana yang kita sukai, dan disukai pembaca. Senantiasa melahirkan karya adalah kunci utama untuk memetakan pembaca.

Selain hal tersebut, checklist berikut akan membantu Anda dalam menghasilkan karya yang menarik :

1. Apakah gaya bahasa yang dipakai cukup mudah dipahami pembaca?

2. Apakah ending cerita mudah ditebak?

3. Apakah konflik yang dibangun terasa logis bagi pembaca?

4. Benarkah tema yang diangkat tidak klise?

C. MENGGALI SUASANA

Latar dalam sebuah cerpen tidak saja berfungsi sebagai pernik yang membuat cerita menarik.  Lebih jauh, ia menjadi salah satu penopang utama keberhasilan sebuah cerpen. Kelemahan penulis pemula, mereka sering menuliskan latar yang sama sekali tidak mendukung isi cerita. Selain itu, kadangkala latar yang digambarkan kurang konkret  dan kurang detail. Atau bisa jadi terlalu biasa atau klise penggambarannya.

Latar senja adalah salah satu contohnya. Telah banyak penulis yang mendeskripsikan senja dengan semburat merah/jingga, lembayung oranye atau ungu. Di dalamnya biasanya juga disinggung mengenai  pantai yang keemasan, pasir, cahaya temaram, dan gelap yang sebentar lagi datang. Bisa jadi, memang demikianlah kenyataan sebenarnya yang dilihat seorang penulis pada senjanya. Namun demikian, paparan tentang senja itu menjadi klise ketika dihubungkannya dengan kerinduan, atau dengan malam yang gelap. Parahnya di bagian-bagian selanjutnya, latar senja itu tak pernah disinggung lagi.

Udara cerah. Angin di pantai itu berembus sepoi-sepoi basah. Sebentar lagi matahari akan tenggelam ke peraduannya. Tiba-tiba aku ingin menyentuh ujung jarinya. Ia terkesiap dan menatap mataku dalam-dalam, seakan-akan berkata,’Tuluskah cintamu padaku?” Dan saat itu, hatiku makin berdebar.


Apa kesan anda ketika membaca cerita di atas? Kuno! Terlalu klise. Apakah sebuah percintaan mesti terjadi di tepi pantai, di kolam renang sebuah hotel yang mewah, atau di pesta ulang tahun teman yang kaya?

‘Semburat merah jingga. Menyemburkan rekah kerinduan yang tak berhingga. Pada satu wajah, yang sekelebat kulihat, dalam kemilau samudera, yang memercik riak-riak ombak. Terhempas di bebatuan karang. Seperti itulah kenangan yang datang. Dan hilang.’

Akrobat kata-kata di atas  sesungguhnya cukup bagus. Tetapi  akan menjadi mubazir bila dalam paragraf selanjutnya tak diimbangi dengan kepaduan cerita. Kelemahan ini sering dijumpai pada karya-karya modern. Ketika kita memutuskan untuk menyinggung senja sebagai latar, kompensasinya di bagian tengah atau akhir, senja itu harus diuraikan kembali.

Mari kita simak penuturan Seno Gumira Ajidarma tentang ‘Sepotong Senja Untuk Pacarku.’

“Balina tercinta.

Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja-dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, atau barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu per satu. Mestinya ada juga lokan, batu berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian…

“Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa.

Putu Wijaya memberikan ‘contoh’ yang baik bagaimana sebuah tema klise bisa menjadi menarik apabila dipotret dari sudut yang tidak biasa. Dalam cerpen ‘Roh’, putu Wijaya menandaskan bahwa ulang tahun bukanlah dominasi orang kaya. Siapa saja, bisa merayakannya, dengan caranya masing-masing.

Dikisahkan bahwa seorang pembantu bernama Roh trenyuh setiap kali melihat ada temannya yang berulang tahun.

Setiap kali ada yang berulang tahun, Roh selalu ingin meneteskan air mata. Diam-diam ia memalingkan mukanya di depan penggorengan dan menghapusnya dengan ujung kebaya. Kalau nyonya rumah memergokinya, ia selalu mengatakan matanya berair karena asap. Tetapi sekali ini, ketika cintanya baru saja ditepiskan oleh anak muda sopir baru tuannya, ia tak bisa bertahan lagi. Sambil memegang sendok penggoreng, ia memandang muka majikannya sambil sesegukan.”

Suasana akrab pembantu-majikan terlihat dalam dialognya yang mengalir lancar dan alami.

“Begini Nyonya. Ini maaf, tapi ini kan kenyataan. Nyonya sendiri selalu menasehati saya supaya menerima kenyataan. Begitu kata Nyonya, bukan? Barangkali nyonya sudah lupa.”

“Tidak, aku ingat. Memang harus begitu. Tapi tadi kau bilang berulang tahun, maksudmu bagaimana?”

“Ya kan Nyonya. Coba saja putra-putra Nyonya, Nyonya sendiri, Tuan, tetangga-tetangga, si Dul supir tuan yang baru itu, sampai-sampai si Iyem, Mariah, Tuminah dan Katijah itu lho pembantu baru Tuan Muin. Semuanya, semuanya saban-saban berulang tahun Nyonya. Saya sendiri, saya sendiri…?”


* Bersambung ke bagian 2

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.