TEMA & AMANAT


Tema adalah gagasan sentral, makna cerita yang mendasari sebuah cerita.  Tema suatu cerita biasanya bersifat tersirat (tersembunyi) dan dapat dipahami setelah membaca keseluruhan isi cerita.

Kedudukan pembaca dan pengarang sama pentingnya bagi perkembangan sebuah karya. Tanpa pengarang, mustahil akan terlahir sebuah karya. Sebaliknya, betapapun hebatnya sebuah karya menurut pengarangnya, apabila karya itu tak jatuh ke tangan pembaca, maka karya tersebut tak berfungsi apa-apa. Peran pembaca menjadi penting, karena merekalah yang memberikan makna terhadap sebuah karya.

Saat menikmati sebuah karya, pembaca akan mendapatkan hal-hal yang bersifat hiburan  dan pelajaran. Hiburan akan didapatkan bila pembaca merasakan kenikmatan estetik. Sedangkan pelajaran akan didapatkan bila pembaca merasakan adanya ajaran moral, etika, dan berbagai hal yang menyangkut pergaulan antar makhluk di dunia. pelajaran inilah yang biasa disebut sebagai amanat dari sang pengarang.

Karya-karya yang baik biasanya memadukan kedua unsur tersebut secara sinkron. Oedipus Sang Raja atau Mahabarata misalnya, menampilkan kedua unsur tersebut secara berimbang. Unsur hiburan dan ajarannya disajikan secara kental dan menyatu dengan semua unsur intrinsik lain. Dalam khazanah kesusasteraan Indonesia, banyak karya yang juga menampilkan hal demikian.. Sebagai misal, novel Atheis, jalan tak ada ujung, robohnya surau kami, puisi-puisi Chairil Anwar atau Amir Hamzah.

Walaupun begitu, tak sedikit pula karya sastra yang lebih menonjolkan salah satu unsur saja. Karya-karya yang mengeksploitasi seks/pornografi, karya yang memuat kisah percintaan remaja secara sederhana dan naif, tergolong dalam jenis karya sastra populer. Dalam karya jenis ini, pembaca hanya memperoleh hiburan tanpa mendapatkan nilai edukasi yang bisa meningkatkan kualitas pemikiran dan kemanusiannya. Apabila karya sastra lebih menonjolkan unsur ajarannya, maka karya-karya tersebut bisa digolongkan dalam karya sastra propaganda. Contohnya adalah karya-karya pada Zaman jepang atau karya seniman Lekra.

Dalam karya sastra yang baik, pengarang selalu berusaha untuk menampilkan unsur hiburan dan ajaran (amanat)nya secara tersembunyi. Ia seolah-olah hanya memotret dan merekam apa yang terjadi di kehidupan ini, tanpa terkesan ikut campur di dalam cerita dan menyampaikan nasehat/amanatnya. Pesan/amanat pengarang yang tersembunyi itu, memaksa pembaca untuk mencari sendiri di dalam teks sastranya.

MACAM RAGAM TEMA :

Tema Intrapersonal
Tema yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan alam sekitar, untuk memaknai kehadirannya di dunia. Tema-tema seputar kenangan, catatan perjalanan, keindahan alam dan kontemplasi bisa digolongkan dalam jenis Tema intrapersonal.

Tema Interpersonal
Tema yang mencakup hubungan seorang manusia dengan manusia lain sebagai individu. Yang bisa digolongkan dalam tema ini : kasih sayang, cinta, persaudaraan, pengorbanan, dll.

Tema Sosial-Politik
Tema yang menyangkut hubungan manusia dalam sebuah komunitas, atau hubungan sebuah komunitas dengan komunitas lain. Misalnya : Pengorbanan, kebersamaan, persatuan, kepahlawanan, pendidikan, sosial, propaganda politik, dll.

Tema Spiritual
Tema yang menyangkut kepercayaan dan keyakinan. Misalnya tema tentang reinkarnasi, keagungan Tuhan, datangnya Mu’jizat, dll.

Bahan-bahan diolah dari :

* 9 jawaban Sastra Indonesia, Maman S. Mahayana

* Membaca Sastra : Pengantar memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi, Melani Budianta, dkk

* Bermain dengan cerpen, Maman S. Mahayana

(Bersambung ke bagian 4)