Jawabannya : pencil nomer 6. Urutkan mulai pencil yang terbawah. maka akan terlihat lebih mudah
Kembali ke Soal
Maret 31, 2010
Jawabannya : pencil nomer 6. Urutkan mulai pencil yang terbawah. maka akan terlihat lebih mudah
Kembali ke Soal
Maret 31, 2010
Maret 31, 2010
Maret 25, 2010
Setelah menerangkan tentang persegi (bujur sangkar), bu Maryam meminta murid-muridnya untuk membuat persegi dari keempat titik yang sudah ditentukan letaknya sebagaimana berikut.

“Ayo, Anak-Anak, siapa yang bisa boleh pulang duluan.”Kata bu Maryam menyemangati.
Hampir 30 menit berlalu, dan tak satupun murid yang bisa menyelesaikan. Hingga Hana mengacungkan tangan. “Saya bisa, saya bisa…”teriaknya kegirangan.
Setelah melihat pekerjaan Hana, ibu guru membolehkannya pulang duluan.
Bisakah Anda membuat persegi di atas, seperti apa yang Hana buat?
Maret 25, 2010
Maret 25, 2010
Suatu ketika saat Popi melihat adiknya belajar, tak sengaja ia menyenggol kotak pencil sehingga sembilan pencil yang ada di dalamnya terjatuh ke lantai. Ia hampir memunguti pencil itu satu persatu, ketika Hana mencegahnya.
“Jangan dirapiin dulu, kak,”sergahnya. “Ayo, coba cari mana pencil yang letaknya ketiga dari bawah.”
Popi mencermati susunan pencil itu sebelum menjawab teka-teki yang diajukan adiknya.
Ia membutuhkan waktu 5 menit sebelum menjawab dengan benar.
Bisakah Anda mencari pencil yang dimaksud Hana tersebut? Berapa waktu yang Anda butuhkan?
Maret 25, 2010
“Tralaaaa…Tadaima.”Sapa Hana pada Popi yang siang itu menyiram bunga. Ia baru pulang dari sekolah.
“Okaeri Nasai.”Jawab Popi, seraya tersenyum. Ia menghentikan aktivitasnya. “Belajar apa hari ini?”
“Berhitung, kak.”
“Oiya? Berhitung apa?”
“Bu Bay meminta kami menghitung jumlah kapur tulis. Pada kotak pertama yang berukuran 5×4 cm, terhitung ada 20 kapur tulis. Nah, bu guru kemudian menanyakan, berapa banyak kapur tulis yang bisa dimasukkan pada kotak kedua yang berukuran 15×8 cm.”
“Pertanyaan yang menarik,”ucap Popi , sembari memberi isyarat agar Hana masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian menuju meja makan. “Mudah sekali, bukan?! Hana khan jago kalau soal berhitung.”
Hana tersenyum. Terbesit dalam pikirannya untuk memberikan teka-teki itu. “Kak Popi tahu nggak jawabannya?”
“Sebentar,”Popi membetulkan letak duduknya. “Dalam kotak 5×4, isi kapurnya 20 biji. Kalau 15×8…”
Setelah menuangkan air dari teko dan meneguknya, Hana kemudian mengambil nasi dan lauk. “Setelah makan, beri saya jawaban, ya Kak?!”
Sepanjang makan siang, Popi memikirkan jawaban teka-teki itu. benarkah ada 120 kapur tulis? Tapi ia masih ragu-ragu.
Dapatkah Anda membantu Popi menyelesaikan teka-teki tersebut?
Ada berapa banyak kapur tulis di kotak kedua?
Maret 25, 2010
Hujan turun perlahan. Membasahi rumah kecil di pinggir kota. Dua kakak beradik, Popi dan Hana tengah asyik memandang butiran bening yang terjatuh di jendela kaca depan rumah mereka.
“Kak, bikinin puisi donk, tentang hujan,”pinta Hana, sambil memandang keluar jendela. Kilatan petir menerangi jalan depan rumah.
“Hmmm, bentar yah…”kata Popi, sambil mengetuk jemarinya di dinding. Pandangannya menerawang ke langit-langit rumah. Ia yang memang sangat hoby membuat puisi segera menuliskan beberapa kata yang terlintas dalam memorinya. Dan kemudian membacanya perlahan.
“Rintik-rintik penghujan, jatuh di jendela kaca. Basahi debu waktu yang erat memeluk bingkainya. Denting kenangan hadir kembali dalam butiran bening…”
“Wah, hebat. Cepat banget bikinnya.”puji Hana yang merasa senang. “Tapi, kak…aku nggak ngerti apa artinya…”
“Kenangan itu seperti jendela kaca, yang ada bingkainya. Jika dibiarkan, debu-debu akan menempel sepanjang kaca, bahkan bingkainya juga. Yang dimaksudkan dengan debu di sini, ialah waktu. Begitu juga otak kita, kalau tak sering-sering diasah pasti akan berdebu. jadinya, tak akan cemerlang. Makanya saya suka bikin puisi, tujuannya mengasah kecerdasan bahasa.”
Hana manggut-manggut, mendengarkan penjelasan kakaknya yang panjang lebar. Dipandangnya lagi butiran bening air hujan yang masih menempel di kaca. Ingin sekali ia bisa membayangkan imajinasi sebagaimana kakaknya, untuk kemudian merangkainya menjadi bahasa indah. bagaimanapun ia mencoba, tak sebuah kalimat yang berhasil ia rangkai. titik-titik hujan di jendela kaca itu justru mengingatkannya pada teka-teki titik yang pernah dibacanya.
“Ngomong-ngomong tentang asah otak nih, Kak. Gimana kalau saya memberikan tebakan untuk kakak?”Tanya Hana seraya tersenyum.
“Boleh. Tebakan apa?”
“Ada 12 titik.”Hana kemudian menggambar 12 titik di balik kertas yang tadi digunakan Popi untuk menulis puisi. Gambarnya seperti ini :
Hana lantas memberikan pertanyaannya. “Dari 12 titik di atas, buatlah :
1. 5 kotak (persegi) identik, yang berukuran kecil
2. 4 kotak (persegi) identik, yang berukuran sedang
3. 2 kotak (persegi) identik, yang berukuran besar
Untuk soal 1, dengan cepat Popi menyelesaikannya. Tapi untuk kedua dan ketiga, ia berpikir keras.
Dapatkah anda membantu Popi menjawab pertanyaan tersebut?
Maret 14, 2008