Setelah Browsing di beberapa tempat tak jua menemukan tulisan yang komperehensif tentang Tips atau Kiat-kiat penulisan cerpen, saya mencoba merangkum beberapa buku dan mengkompilasinya menjadi tulisan berikut, yang disertai beberapa contoh praktis. Masukan dan saran pembaca, khususnya anggota MBB sangat diperlukan untuk mengembangkan kiat-kiat ini, agar tepat guna.

Bahan-bahan :

Kiat Menulis Cerita Pendek, Harris Effendi Thahar
Bermain dengan cerpen, Maman S. Mahayana
Apresiasi cerpen Indonesia Mutakhir, Korie Layun Rampan

-=o0o=-

Kiat jitu Menulis Cerpen (1)

A. PARAGRAF PERTAMA

Selain judul, paragraf pertama adalah etalase sebuah cerpen. Menarik tidaknya barang-barang yang ditawarkan, bisa dilihat dari kaca etalase depannya. Demikian halnya cerpen. Ketika paragraf mulanya mulai dibaca, lantas tidak menarik, besar kemungkinan pembaca tidak akan melanjutkannya  hingga tamat. Bisa jadi hal ini disebabkan karena paragraf awal terlalu biasa, tidak mengundang rasa penasaran, terkesan menggurui, dan lain-lain.

Di beberapa referensi disebutkan bahwa penulis mempunyai empat kalimat awal untuk dicicipi pembaca. Bila empat kalimat awal ini gagal menghadirkan rasa yang menawan, jangan terlampau berharap pembaca akan meneruskan membacanya.

Dalam hidup dan kehidupan ini, manusia senantiasa dihadapkan pada pilihan dan nasib. Nasib tak selalu cocok dengan pilihan. Terkadang terlalu jauh dari pilihan cita-cita hingga tragedi demi tragedi terjadi. Tragedi yang menyayat perasaan memeras air mata. Begitulah yang terjadi pada Rika, gadis yang malang.

Kesan menggurui amat terasa pada contoh di atas, Siapa yang tidak tahu bahwa nasib itu tidak sama dengan cita-cita hidup?

Jakarta musim kemarau.

Seorang overste MPP berpakaian preman mandi keringat di atas bis kota Merantama. Bus penuh sesak. Overste MPP yang bernama Marzuki itu terus didesak oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia mengharapkan udara segara, bukan bau keringat. (Budi, Chairul Harun)

Dari kutipan di atas, begitu paragraf pertama diluncurkan, cerita mulai berjalan. Dari lima kalimat pendek, pembaca sudah mendapatkan informasi padat tentang suasana di atas bus kota, nama tokoh, status sosialnya, dan cuaca.

Sebuah cerpen dapat diibaratkan sebagai bangunan. Paragraf pertama adalah beranda depan, yang bisa jadi ada taman mungil, bunga-bunga penghias,  meja dan kursi untuk bersantai di pinggirnya, atau hal-hal lain yang menarik mata orang yang memandangnya. Semakin menarik cerita, orang akan tergugah membacanya. Apa yang ada di benak anda saat membaca paragraf awal berikut?

Gagak-gagak hitam bertebahan dari angkasa, sebagai gumpalan-gumpalan batu yang dilemparkan, kemudian mereka berpusar-pusar, tiap-tiap gerombolan membentuk lingkaran sendiri-sendiri, besar dan kecil, tidak keruan sebagai benang kusut. Laksana sean maut yang compang-camping mereka buas dan tidak mempunyai ukuran hingga mereka loncat ke sana loncat kemari, terbang ke sana terbang kemari, dari bangkau mayat yang satu ke gumpalan daging yang lain. Dan burung-burung ini jelas kurang tekun dan membakar padang gundul yang luas itu, yang di atasnya berkaparan tubuh-tubuh yang gugur, prajurit-prajurit yang baik, yang sudah mengorbankan satu-satunya milik yang tidak bisa dibeli: nyawa! Ibarat sumber yang mati mata airnya, hingga tamatlah segala kegiatan, perahu-perahu mandek dan kandas pada dasar sungainya dan bayi menangis karena habisnya susu ibu. (Godlob, Danarto)

B. MEMPERTIMBANGKAN PEMBACA

Penulis merupakan produsen yang menghasilkan sebuah produk (dalam bentuk tulisan), yang nantinya akan dikonsumsi oleh pembaca. Karenanya, adalah sebuah keniscayaan untuk senantiasa menjaga mutu tulisan agar layak baca, menarik dan bermanfaat. Membuat cerita menarik sebenarnya gampang-gampang susah, karena selera pembaca amat beragam. Ada yang menyukai cerita jenis horor, komedi, drama, dll. Karena itu, mencoba membuat cerita dengan bermacam-macam genre, akan membantu kita untuk mengasah kreativitas. Pada gilirannya nanti, kita akan mengetahui dengan sendirinya, genre mana yang kita sukai, dan disukai pembaca. Senantiasa melahirkan karya adalah kunci utama untuk memetakan pembaca.

Selain hal tersebut, checklist berikut akan membantu Anda dalam menghasilkan karya yang menarik :

1. Apakah gaya bahasa yang dipakai cukup mudah dipahami pembaca?

2. Apakah ending cerita mudah ditebak?

3. Apakah konflik yang dibangun terasa logis bagi pembaca?

4. Benarkah tema yang diangkat tidak klise?

C. MENGGALI SUASANA

Latar dalam sebuah cerpen tidak saja berfungsi sebagai pernik yang membuat cerita menarik.  Lebih jauh, ia menjadi salah satu penopang utama keberhasilan sebuah cerpen. Kelemahan penulis pemula, mereka sering menuliskan latar yang sama sekali tidak mendukung isi cerita. Selain itu, kadangkala latar yang digambarkan kurang konkret  dan kurang detail. Atau bisa jadi terlalu biasa atau klise penggambarannya.

Latar senja adalah salah satu contohnya. Telah banyak penulis yang mendeskripsikan senja dengan semburat merah/jingga, lembayung oranye atau ungu. Di dalamnya biasanya juga disinggung mengenai  pantai yang keemasan, pasir, cahaya temaram, dan gelap yang sebentar lagi datang. Bisa jadi, memang demikianlah kenyataan sebenarnya yang dilihat seorang penulis pada senjanya. Namun demikian, paparan tentang senja itu menjadi klise ketika dihubungkannya dengan kerinduan, atau dengan malam yang gelap. Parahnya di bagian-bagian selanjutnya, latar senja itu tak pernah disinggung lagi.

Udara cerah. Angin di pantai itu berembus sepoi-sepoi basah. Sebentar lagi matahari akan tenggelam ke peraduannya. Tiba-tiba aku ingin menyentuh ujung jarinya. Ia terkesiap dan menatap mataku dalam-dalam, seakan-akan berkata,’Tuluskah cintamu padaku?” Dan saat itu, hatiku makin berdebar.


Apa kesan anda ketika membaca cerita di atas? Kuno! Terlalu klise. Apakah sebuah percintaan mesti terjadi di tepi pantai, di kolam renang sebuah hotel yang mewah, atau di pesta ulang tahun teman yang kaya?

‘Semburat merah jingga. Menyemburkan rekah kerinduan yang tak berhingga. Pada satu wajah, yang sekelebat kulihat, dalam kemilau samudera, yang memercik riak-riak ombak. Terhempas di bebatuan karang. Seperti itulah kenangan yang datang. Dan hilang.’

Akrobat kata-kata di atas  sesungguhnya cukup bagus. Tetapi  akan menjadi mubazir bila dalam paragraf selanjutnya tak diimbangi dengan kepaduan cerita. Kelemahan ini sering dijumpai pada karya-karya modern. Ketika kita memutuskan untuk menyinggung senja sebagai latar, kompensasinya di bagian tengah atau akhir, senja itu harus diuraikan kembali.

Mari kita simak penuturan Seno Gumira Ajidarma tentang ‘Sepotong Senja Untuk Pacarku.’

“Balina tercinta.

Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja-dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, atau barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu per satu. Mestinya ada juga lokan, batu berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian…

“Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa.

Putu Wijaya memberikan ‘contoh’ yang baik bagaimana sebuah tema klise bisa menjadi menarik apabila dipotret dari sudut yang tidak biasa. Dalam cerpen ‘Roh’, putu Wijaya menandaskan bahwa ulang tahun bukanlah dominasi orang kaya. Siapa saja, bisa merayakannya, dengan caranya masing-masing.

Dikisahkan bahwa seorang pembantu bernama Roh trenyuh setiap kali melihat ada temannya yang berulang tahun.

Setiap kali ada yang berulang tahun, Roh selalu ingin meneteskan air mata. Diam-diam ia memalingkan mukanya di depan penggorengan dan menghapusnya dengan ujung kebaya. Kalau nyonya rumah memergokinya, ia selalu mengatakan matanya berair karena asap. Tetapi sekali ini, ketika cintanya baru saja ditepiskan oleh anak muda sopir baru tuannya, ia tak bisa bertahan lagi. Sambil memegang sendok penggoreng, ia memandang muka majikannya sambil sesegukan.”

Suasana akrab pembantu-majikan terlihat dalam dialognya yang mengalir lancar dan alami.

“Begini Nyonya. Ini maaf, tapi ini kan kenyataan. Nyonya sendiri selalu menasehati saya supaya menerima kenyataan. Begitu kata Nyonya, bukan? Barangkali nyonya sudah lupa.”

“Tidak, aku ingat. Memang harus begitu. Tapi tadi kau bilang berulang tahun, maksudmu bagaimana?”

“Ya kan Nyonya. Coba saja putra-putra Nyonya, Nyonya sendiri, Tuan, tetangga-tetangga, si Dul supir tuan yang baru itu, sampai-sampai si Iyem, Mariah, Tuminah dan Katijah itu lho pembantu baru Tuan Muin. Semuanya, semuanya saban-saban berulang tahun Nyonya. Saya sendiri, saya sendiri…?”


* Bersambung ke bagian 2

About these ads