Belajar Menulis Cerita (BMC-04)

ALUR

Alur merupakan urutaan atau rangkaian peristiwa dalam cerita rekaan. Urutan peristiwa dapat tersusun atas dasar tiga hal, yakni :

1. Berdasarkan urutan waktu terjadinya.

Alur dengan susunan peristiwa berdasarkan kronologis kejadian disebut alur   linear. Disebut alur maju, bila rangkaian peristiwa yang membentuknya berurutan sesuai dengan urutan waktu kejadian. Disebut Alur mundur bila  rangkaian peristiwa yang disusun, tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian.

2. Berdasarkan hubungan kausalnya/sebab akibat.

Alur berdasarkan hubungan sebab-akibat disebut alur kausal. E.M Foster dalam bukunya Aspect of the Novel, lebih sepakat bahwa alur merupakan hubungan kausalitas antar peristiwa. Sedangkan yang tidak berhubungan disebut sebagai jalan cerita.

Sebagai contoh :

1. “Raja wafat karena diracun permaisurinya.”

2. “Raja wafat ketika permaisurinya sedang berada di taman”

Contoh pertama disebut alur, karena ada kausalitas (sebab akibat), sedangkan contoh kedua adalah jalan cerita, karena hanya berupa rangkaian cerita, yang tidak didasari oleh kausalitas.

3. Berdasarkan tema cerita.

Alur berdasarkan tema cerita disebut alur tematik.

Struktur Alur

Setiap karya sastra  mempunyai rangkaian cerita yang khas. Namun demikian, ada beberapa unsur yang ditemukan pada hampir semua cerita. Unsur-unsur tersebut merupakan pola umum alur cerita, yang terdiri dari :

Bagian awal

paparan (exposition)

rangsangan (inciting moment)

gawatan (rising action)

Bagian tengah

tikaian (conflict)

rumitan (complication)

klimaks

Bagian akhir

leraian (falling action)

selesaian (denouement)

Tidak semua cerita harus dimulai dari paparan (exposition).  Beberapa cerpen justru  memulai bagian awalnya  dari rangsangan. Ada juga cerita yang justru dimulai dari bagian tengahnya. Cerita semacam itu disebut dengan in media res. Beberapa karya yang lain, justru memulai cerita dari peristiwa akhir (Flash back). Adalah selera pengarang untuk memulai ceritanya dari bagian yang manapun.

Hampir semua novel terbitan balai Pustaka sebelum Indonesia merdeka, menggunakan struktur alur yang sama : bagian awal, tengah dan akhir. Di bagian awal, pengarang mendeskripsikan keadaan/gambaran fisik dan psikis tokoh-tokohnya, berikut latar tempatnya. Setelah peristiwa mencapai klimaks, dibagian akhir pengarang memanfaatkan peristiwa tersebut untuk menyampaikan nasehatnya. Tokoh utama berbahagia bila ia baik, dan meninggal atau sengsara bila ia jahat.

Novel Atheis (1949) adalah contoh novel yang menggunakan alur flashback. Peristiwa di bagian awal novel dimulai dari kematian tokoh utamanya, Hasan, yang sebenarnya merupakan akhir semua peristiwa yang dialami tokoh tersebut. Beberapa struktur novel yang mempunyai alur hampir sama dengan Novel Atheis diantaranya, Gairah untuk hidup dan untuk mati, Kubah dan Anak tanah Air.

Penulis novel Indonesia mutakhir sepertinya sengaja membuat struktur alur yang berbeda dengan apa yang sudah dilakukan oleh novelis sebelumnya. Novel Priyayi, karya Umar Kayam, membuat tokoh-tokoh yang semuanya terkesan membentuk ceritanya sendiri. Antara tokoh satu dan lainnya seperti tidak saling berhubungan, kecuali satu tokoh : Sastrodarsono.  Karya-karya Iwan Simatupang,  Putu Wijaya, Kuntowijaya atau Budi Darma malah terkesan mengabaikan struktur alur dan hubungan kausalitas di dalamnya. Mereka bercerita tentang peristiwa-peristiwa yang satu sama lain sepertinya tidak saling berhubungan. Dibutuhkan kejelian untuk membaca maksud penulisnya.

Titik Bidik :

Untuk tahapan awal, sangat disarankan membuat kerangka alur yang menunjukkan kausalitas antar peristiwa. Membuat karya dengan alur demikian lebih mudah daripada membuat karya dengan alur tematis/kronologis.

Cukup dengan bertanya ‘Apa’, ‘Mengapa’ dan ‘Bagaimana’ ala 5W1H (What, Where, When, Why, Who, dan How), kita dengan mudah  bisa membuat ceritanya.

Sebagai contoh, sebutlah dua tokoh sembarang sebagai lakon utama : Bintang dan Bulan misalnya.  Ada apa dengan Bintang? Ada apa dengan Bulan? Mengapa mereka bertemu? Bagaimana bisa begitu? Berpisahkah mereka pada akhirnya?

Contoh I

Bulan yang telah merindukan Bintang berbulan-bulan lamanya, mengajak bintang bertemu pada suatu senja. Mereka bercengkerama tentang kesendirian yang menyapa hari-hari mereka. Hari-hari lalu, yang tak ingin mereka jumpai kembali. Merekapun sepakat untuk selalu bersama, mengarungi gulita semesta…

Contoh II

Aku nggak tahu kenapa orang tuanya memberi nama bulan. Apakah karena sinarnya yang menghangatkan dan menentramkan? Enggak juga. Malah sebaliknya. Bertemu dengannya saja aku sudah muak. Ingin sesekali menonjok mukanya yang jerawatan itu…!

Nggak seperti aku, tentunya, yang diberi nama Bintang. Karena cemerlang sinarku. Secemerlang prestasiku, yang selalu rangking satu. Tapi itu dulu, sebelum Bulan pindah sekolah kemari…

(Bersambung ke bagian 5)

=o0o=

Sumber Tulisan :
9 Jawaban Sastra Indonesia, Maman S. Mahayana
Membaca Sastra, Melani Budianta, DKK
Bermain dengan Cerpen, Maman S. Mahayana

About these ads